Media Sosial, Cyberbullying, dan Flexing: Tantangan Besar Pelajar di Era Digital
- 21 Mei 2026 13:53 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan pelajar masa kini. Hampir setiap aktivitas sehari-hari selalu berkaitan dengan dunia digital, mulai dari bangun tidur hingga kembali beristirahat. Di satu sisi, media sosial memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi dan mengekspresikan diri.
Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut juga membawa dampak negatif seperti penyebaran hoaks, cyberbullying, hingga budaya flexing yang kini semakin marak di kalangan remaja.
Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman Samarinda, Silviana Purwanti, menilai penyebaran hoaks saat ini berkembang layaknya bola salju yang terus membesar. “Untuk penyebaran hoaks ini makin hari makin seperti snowball atau bola salju,” ujar Silvi kepada RRI, dikutip Kamis 21 Mei 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat berbagai pihak harus bergerak aktif memberikan edukasi literasi digital agar informasi palsu tidak terus menyebar luas di masyarakat.
Melalui program literasi digital ke sekolah-sekolah, pihak kampus berupaya memberikan pemahaman kepada pelajar tentang bahaya penyebaran berita palsu. “Bagaimana kita menghambat bibit yang buruk itu supaya tidak menjadi tanaman liar yang menutupi tanaman-tanaman yang bagus,” ucapnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan pentingnya edukasi digital sejak dini agar generasi muda mampu memilah informasi yang benar dan tidak mudah terprovokasi oleh konten negatif di media sosial.
Pemerintah sendiri telah berupaya membuat aturan pembatasan usia penggunaan media sosial, salah satunya batas minimal usia 16 tahun. Namun, aturan tersebut dinilai masih memiliki banyak celah. “Anak sekarang pintar-pintar, mereka tahu cara mencari celah,” katanya.

Ia menilai banyak remaja dapat dengan mudah memanipulasi data usia pada akun digital sehingga pembatasan tersebut belum sepenuhnya efektif diterapkan. Selain hoaks, cyberbullying juga menjadi persoalan serius yang banyak dialami pelajar. Fenomena ini bahkan dianggap sebagian orang sebagai sesuatu yang normal di media sosial. “Mereka di dunia nyata itu dibully atau tidak percaya diri, lalu menumpahkannya melalui ketikan,” ujarnya.
Menurutnya, banyak pengguna media sosial merasa lebih berani menyerang orang lain karena identitas mereka tidak terlihat secara langsung. Akibatnya, kolom komentar sering dipenuhi hinaan, ejekan, dan ujaran kebencian.
Ia juga menjelaskan, fitur anonim dan kemudahan membuat akun baru memperparah perilaku cyberbullying. “Pada saat saya bikin second account atau third account, buat saya membully itu aman karena orang tidak lihat fisik saya,” ucap Silvi.
Kondisi ini menunjukkan media sosial dapat menjadi tempat pelampiasan emosi bagi orang-orang yang tidak mampu mengekspresikan diri secara langsung di kehidupan nyata.
Fenomena lain yang kini ramai terjadi adalah budaya flexing atau pamer kehidupan di media sosial. Banyak pelajar mengunggah aktivitas liburan, barang mewah, hingga gaya hidup tertentu demi mendapatkan perhatian dan validasi. Meski demikian, tidak semua flexing bersifat negatif. Menurutnya, membagikan pencapaian positif justru dapat menjadi motivasi bagi orang lain selama dilakukan secara wajar dan tidak bertujuan merendahkan pihak lain.
Dalam penjelasannya, Silviana Purwanti juga menyinggung konsep marshmallow effect yang berkaitan dengan kemampuan menahan diri sebelum bereaksi di media sosial. “Pada saat postingan menarik untuk dikomentari, harus diam dulu dan tahan,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat penting bahwa pengguna media sosial perlu berpikir sebelum berkomentar agar tidak terjebak dalam konflik digital yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Pada akhirnya, media sosial bukanlah sesuatu yang sepenuhnya buruk. Platform digital tetap dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Pelajar perlu memahami bahwa validasi digital bukan ukuran utama kebahagiaan maupun kesuksesan. Dengan literasi digital yang baik, generasi muda dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana belajar, berkarya, dan menyebarkan hal-hal positif demi menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan edukatif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....