Medsos dan Pelajar: ketika Algoritma Membentuk Kebiasaan Digital Generasi Muda

  • 21 Mei 2026 13:56 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Media sosial kini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan pelajar. Kehadiran berbagai platform digital membuat masyarakat dapat memperoleh hiburan, informasi, hingga pengakuan sosial hanya melalui layar telepon genggam.

Namun, di balik kemudahan tersebut, media sosial juga membawa dampak serius terhadap pola pikir, kesehatan mental, dan perilaku generasi muda. Salah satu penyebab utamanya adalah algoritma media sosial yang dirancang membuat pengguna terus bertahan berlama-lama di dalam aplikasi.

Hal itu disampaikan Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman Samarinda, Silviana Purwanti, kepada RRI dalam program Halo Kaltim, dikutip Kamis 21 Mei 2026. Ia menjelaskan, otak manusia secara alami menyukai sesuatu yang baru. “Otak kita suka sesuatu yang baru, sesuatu yang bikin otak kita segar,” ujar Silvi.

Menurutnya, kondisi inilah yang membuat banyak orang awalnya hanya berniat membuka aplikasi sebentar, tetapi akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir konten di media sosial.

Fenomena tersebut semakin diperkuat dengan hadirnya fitur video singkat seperti short video dan reels. Konten berdurasi pendek membuat pengguna terus berpindah dari satu tayangan ke tayangan lain tanpa sadar. Pola konsumsi seperti ini perlahan membentuk kebiasaan instan dan membuat konsentrasi pengguna menjadi lebih pendek. “Kalau menonton YouTube sekarang yang dilihat YouTube Shorts karena pendek-pendek,” katanya.

Selain itu, algoritma media sosial juga bekerja berdasarkan kebiasaan pengguna. Konten yang sering dilihat akan terus dimunculkan sehingga menciptakan rasa nyaman dan ketagihan. Dalam perbincangan tersebut, ia menilai sistem digital membaca pola perilaku pengguna dan terus menyajikan konten yang sesuai dengan minat mereka agar pengguna tidak meninggalkan aplikasi. “Algoritma itu yang bikin kita terus seperti kecanduan,” ucapnya.

Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman Samarinda, Silviana Purwanti, saat dialog bersama RRI. (Foto: Tangkapan layar youtube RRI Samarinda)

Fenomena kecanduan media sosial bahkan kini diibaratkan seperti narkoba digital. Istilah tersebut menggambarkan bagaimana media sosial dapat memberikan efek candu melalui rangsangan visual yang terus menerus diterima otak. Pengguna akhirnya merasa gelisah ketika tidak membuka media sosial dalam waktu tertentu.

Tidak hanya algoritma, kebutuhan akan hiburan dan pelarian dari rutinitas juga menjadi alasan banyak orang sulit lepas dari media sosial. “Pelarian yang lebih mudah dan nyaman hanya handphone,” ujar Silvi.

Menurutnya, kondisi ekonomi dan kesibukan sehari-hari membuat sebagian masyarakat memilih mencari hiburan murah melalui media sosial dibandingkan melakukan aktivitas lain di dunia nyata.

Selain hiburan, media sosial juga memberikan “hadiah kecil” yang membuat pengguna merasa senang. Hadiah tersebut berupa jumlah like, komentar, hingga respons dari pengguna lain. Respons digital seperti itu memicu hormon kebahagiaan sehingga pengguna terdorong terus aktif di media sosial demi mendapatkan validasi serupa. “Pada saat saya posting kemudian ada yang nge-like atau komen, itu happy-nya luar biasa,” katanya.

Meski media sosial memberikan banyak kemudahan, dampak jangka panjangnya terhadap pelajar perlu menjadi perhatian serius. Paparan konten negatif secara terus menerus dapat membuat generasi muda lebih mudah bereaksi daripada berpikir. Budaya komentar instan, penyebaran hoaks, hingga perundungan digital menjadi ancaman nyata apabila tidak diimbangi dengan literasi digital dan kontrol diri yang baik.

Sebagai penutup, ia menegaskan tidak semua yang viral itu benar dan tidak semua yang ramai itu penting. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa media sosial hanyalah alat, sedangkan kendali utama tetap berada di tangan manusia sebagai penggunanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....