Mentan Amran Pastikan Produksi Beras Nasional Aman meski Diproyeksi Turun Tipis

  • 14 Sep 2026 07:51 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Subang – Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, memastikan produksi beras nasional tetap dalam kondisi aman meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan penurunan tipis produksi beras sepanjang Januari–Oktober 2026.

BPS memproyeksikan produksi beras nasional pada periode Januari–Oktober 2026 mencapai 31,41 juta ton atau turun sekitar 0,08 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 31,44 juta ton. Produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG) juga diperkirakan mencapai 54,52 juta ton, dengan penurunan dalam persentase yang sama.

Dikutip dari laman Kementerian Pertanian, Senin 7 September 2026, Mentan Amran menilai angka tersebut perlu dipahami secara proporsional. Menurutnya, penurunan 0,08 persen relatif kecil jika dibandingkan dengan total produksi beras nasional.

“Penurunan 0,08 persen coba dikali 34,7 juta ton produksi beras nasional. 0,08 persen itu hanya 30 ribu ton, kecil sekali dibandingkan 34,7 juta ton,” ujar Amran seusai panen pertanaman padi model PM-AAS di Balai Riset dan Pengembangan Pertanian Padi (BRMP) Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Rabu 2 September 2026.

Amran menegaskan kondisi pangan nasional saat ini masih kuat karena Indonesia terus mencatat surplus produksi. Menurutnya, surplus pangan dalam dua tahun terakhir menjadi salah satu indikator ketahanan sektor pertanian nasional di tengah berbagai tantangan.

“Tahun lalu surplus 4 juta ton, tahun ini juga surplus. Kehilangan 30 ribu ton sementara kita memiliki surplus jutaan ton tentu tidak mengubah kondisi ketahanan pangan kita,” katanya.

Meski demikian, pemerintah tetap mencermati perkembangan produksi dan tidak menganggap remeh berbagai tantangan yang dihadapi petani, terutama akibat kondisi iklim. Fenomena El Niño yang masih memberikan dampak terhadap sektor pertanian menjadi salah satu perhatian pemerintah.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Kementerian Pertanian terus memperkuat langkah mitigasi, mulai dari program pompanisasi, perbaikan dan penguatan sistem irigasi, hingga penggunaan varietas benih yang lebih tahan terhadap kekeringan.

“Wajar jika ada sedikit penurunan karena kondisi iklim. Namun, di tengah ancaman El Niño ekstrem, kita tidak boleh menyerah. Karena itu, kami turun langsung memasang pompa-pompa dan melakukan berbagai upaya mitigasi,” ujar Amran.

Amran menjelaskan, pemerintah telah melakukan persiapan jauh sebelum dampak El Niño dirasakan secara luas. Selain menjamin ketersediaan air melalui pompanisasi dan irigasi, pemerintah juga mendorong peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi budi daya modern.

“Nah, sekarang dampak El Niño insyaallah bisa kita mitigasi karena persiapannya sudah dilakukan sejak jauh hari. Pertama pompanisasi, kedua irigasi, ketiga peningkatan produktivitas seperti model PM-AAS yang mampu meningkatkan hasil dari 5 ton menjadi 10 ton atau dari 6 ton menjadi 11 ton per hektare. Selain itu, ada benih yang tahan kekeringan,” katanya.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga ketahanan pangan nasional di tengah perubahan iklim. Fokus pemerintah tidak hanya mempertahankan luas panen, tetapi juga meningkatkan produktivitas lahan agar hasil panen per hektare terus bertambah.

Di sisi lain, BPS menegaskan angka produksi Oktober 2026 yang disampaikan masih berupa angka potensi atau proyeksi. Realisasi produksi hingga akhir periode masih dapat berubah bergantung pada kondisi pertanaman dan perkembangan panen di lapangan.

Karena itu, pemerintah akan terus memperkuat berbagai langkah mitigasi untuk memastikan produksi pangan tetap terjaga hingga akhir tahun. Amran menegaskan pemerintah akan terus hadir mendampingi petani agar produktivitas tetap terjaga dan kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi.

“Kita tidak boleh membiarkan petani berjalan sendiri, kita harus turun tangan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....