Ekspor CPO Indonesia Tumbuh 5,49 Persen, Hilirisasi Jadi Kunci
- 09 Sep 2026 12:30 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Jakarta - Kinerja ekspor sektor pertanian Indonesia menunjukkan tren positif sepanjang Januari–Juli 2026. Salah satu komoditas yang menjadi pendorong pertumbuhan tersebut adalah minyak sawit. Nilai ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya tumbuh 5,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dikutip dari laman Kementerian Pertanian, Senin 7 September 2026, pertumbuhan tersebut sejalan dengan penguatan ekspor nonmigas Indonesia yang secara kumulatif mencapai US$160,01 miliar selama Januari–Juli 2026. Angka itu meningkat 5,21 persen secara tahunan.
Sementara itu, total nilai ekspor Indonesia tercatat US$167,03 miliar atau naik 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menjelaskan kenaikan harga komoditas global menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan kinerja ekspor, khususnya sektor pertanian.
Menurutnya, harga minyak sawit mengalami penguatan signifikan sepanjang 2026.
“Pada Juli 2026, secara umum harga komoditas di pasar global menunjukkan peningkatan secara year on year. Kenaikan harga terjadi pada kelompok pertanian, energi, logam mulia, serta logam dan mineral. Peningkatan harga komoditas pertanian utamanya didorong oleh kenaikan harga minyak sawit,” ujar Ateng dalam penyampaian Berita Resmi Statistik BPS, Selasa 1 September 2026.
Penguatan ekspor minyak sawit juga tercermin pada kelompok lemak dan minyak hewani maupun nabati (HS 15), yang menjadi salah satu kontributor utama ekspor nonmigas Indonesia.
Selain itu, produk berbasis sawit turut mendukung pertumbuhan sektor industri pengolahan. Sektor tersebut sepanjang Januari–Juli 2026 tumbuh 7,16 persen.
Kondisi ini menunjukkan kontribusi sektor pertanian terhadap perdagangan luar negeri tidak hanya berasal dari komoditas primer. Produk pertanian yang telah melalui proses pengolahan mampu menghasilkan nilai tambah lebih tinggi sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di pasar internasional.
Peluang ekspor Indonesia juga terus berkembang di berbagai negara tujuan utama, salah satunya Tiongkok.
Sepanjang Januari–Juli 2026, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok mencapai US$40,62 miliar atau meningkat 18,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produk lemak dan minyak hewani maupun nabati, termasuk minyak sawit, menjadi salah satu komoditas yang berkontribusi terhadap peningkatan ekspor tersebut.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi komoditas pertanian Indonesia dalam perdagangan global.
Sebagai salah satu produsen sawit terbesar di dunia, Indonesia dinilai memiliki modal kuat untuk meningkatkan nilai ekspor melalui pengembangan industri hilir.
“Indonesia ini salah satu produsen sawit terbesar dunia. Ini kekuatan kita. Jangan hanya ekspor bahan mentah, tetapi kita dorong hilirisasi supaya nilai tambahnya semakin besar,” ujar Amran.
Menurut Amran, penguatan ekspor harus berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas di tingkat hulu serta percepatan hilirisasi sektor pengolahan.
Dengan langkah tersebut, pertumbuhan ekspor tidak hanya meningkatkan nilai perdagangan nasional, tetapi juga diharapkan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani dan pekebun.
“Yang paling penting adalah bagaimana nilai tambah itu kembali kepada petani dan pekebun. Produktivitas kita tingkatkan, kemudian hilirisasi kita dorong. Jadi, dari hulu sampai hilir harus kuat,” katanya.
Pemerintah, lanjut Amran, terus mendorong berbagai program strategis, seperti peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul, peningkatan produktivitas, hingga pengembangan industri pengolahan hasil pertanian.
Upaya tersebut dilakukan agar Indonesia tidak hanya unggul sebagai negara produsen, tetapi juga semakin kompetitif sebagai eksportir produk pertanian bernilai tambah.
Pertumbuhan ekspor CPO dan produk turunannya sebesar 5,49 persen menunjukkan bahwa komoditas pertanian memiliki peran strategis dalam memperkuat perdagangan nasional.
Ke depan, penguatan produktivitas dan hilirisasi diharapkan mampu meningkatkan nilai ekspor sekaligus membuka peluang yang lebih besar bagi peningkatan kesejahteraan petani dan pekebun.
“Pertanian harus menghasilkan, harus memberikan nilai tambah. Kita ingin produk pertanian Indonesia semakin banyak masuk pasar dunia dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi petani,” kata Amran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....