Camilan Sederhana Jadi Ladang Rezeki, Boring Bertahan Berkat Konsistensi Rasa
- 02 Jun 2026 07:43 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Camilan sederhana ternyata mampu menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Hal itu dibuktikan oleh Muhammad Fajri atau yang akrab disapa Aji, owner Boring (Bolu Kering), yang berhasil mengembangkan usaha rumahan sejak 2018 hingga mampu membuka lapangan pekerjaan dan mempertahankan usahanya di tengah berbagai tantangan.
Dalam program UMKM Bicara yang disiarkan RRI Pro 1 Samarinda, Senin 1 Juni 2026, Aji menceritakan usaha bolu kering yang dirintisnya berawal dari kebutuhan konsumsi keluarga. Produk original yang awalnya hanya dibuat untuk dinikmati sendiri ternyata mendapat respons positif dari keluarga besar hingga akhirnya dipasarkan secara lebih luas.
"Awalnya memang untuk konsumsi pribadi dan keluarga. Ternyata yang original justru menjadi favorit di rumah dan keluarga besar, sehingga kami mencoba memasarkannya," ujarnya.
Aji mengungkapkan, tantangan terbesar yang dihadapi pelaku UMKM seperti dirinya adalah keterbatasan modal dan promosi. Hingga kini, pemasaran produk masih mengandalkan media sosial tanpa dukungan iklan berbayar karena keterbatasan anggaran.
"Tantangan terbesarnya memang modal dan media promosi. Kami masih mengandalkan media sosial tanpa beriklan. Kami juga masih mencari formula yang tepat agar produk lebih dikenal masyarakat luas," katanya.
Menariknya, usaha Boring dimulai dengan modal yang sangat sederhana. Aji mengaku hanya membutuhkan modal sekitar Rp1 juta yang sudah mencakup peralatan dan bahan baku. Saat itu, ia memanfaatkan oven tangkring kecil yang diletakkan di atas kompor serta hand mixer yang sudah dimiliki sebelumnya.
"Dulu modalnya kurang lebih satu jutaan, itu sudah termasuk bahan-bahan. Produksinya masih kecil dan pemasaran dari rumah ke rumah. Pesanan hanya sekitar 200 sampai 300 biji dan pengerjaannya bisa berhari-hari karena kapasitas oven masih sangat terbatas," ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, kapasitas produksi terus meningkat. Jika dahulu hanya dikerjakan oleh pasangan suami istri, kini usaha tersebut telah dibantu dua orang tenaga kerja tambahan. Dengan tim berjumlah empat orang, proses produksi menjadi lebih cepat dan efisien.
"Alhamdulillah sekarang ada dua orang yang membantu produksi dan distribusi. Kalau berempat tentu pekerjaan lebih ringan dan waktu produksi lebih singkat," katanya.
Dari sisi keuntungan, Aji menyebut pendapatan usaha makanan ringan sangat bergantung pada jumlah pesanan dan momentum tertentu seperti Idulfitri maupun Iduladha. Pada periode tersebut, permintaan biasanya meningkat tajam hingga membuat tim kewalahan memenuhi pesanan.
"Kalau keuntungan relatif, tergantung pesanan. Saat momen hari besar biasanya meningkat. Saat ini kisaran keuntungan bisa mencapai Rp4 juta sampai Rp5 juta per bulan," ujarnya.
Meski sudah berkembang, perjalanan usaha tidak selalu berjalan mulus. Aji mengaku pernah menghadapi penolakan dari sejumlah toko retail. Namun sayangnya, pihak retail tidak memberikan penjelasan yang jelas mengenai alasan penolakan sehingga menyulitkan pihaknya untuk melakukan evaluasi.
"Kami terbuka terhadap kritik dan saran. Kalau memang kemasan atau rasa perlu diperbaiki, kami siap berubah. Tetapi sering kali tidak ada penjelasan sehingga kami kesulitan mengetahui apa yang harus diperbaiki," katanya.
Menurut Aji, kesalahan yang kerap dilakukan pelaku usaha pemula adalah terlalu fokus pada produksi tanpa melakukan riset pasar terlebih dahulu. Padahal memahami kebutuhan konsumen menjadi faktor penting agar produk mampu bertahan dalam persaingan.
"Sering kali orang hanya yakin produknya bagus lalu langsung dijual. Padahal harus melihat pasar lebih dulu dan terus berinovasi agar tidak tertinggal," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dalam bisnis kuliner. Menurutnya, pelanggan akan kembali membeli produk jika kualitas rasa tetap terjaga dari waktu ke waktu. Sebaliknya, perubahan rasa dapat membuat pelanggan berpaling ke produk lain.
"Di usaha makanan, konsistensi itu sangat penting. Awalnya orang mungkin penasaran lalu membeli. Kalau rasanya berubah, mereka bisa tidak kembali lagi," katanya.
Saat ini pemasaran Boring masih didominasi promosi dari mulut ke mulut yang terbukti efektif membangun kepercayaan pelanggan. Selain melalui WhatsApp, informasi produk juga diperkenalkan melalui Facebook dan Instagram meski pengelolaannya masih dilakukan sendiri oleh pemilik usaha.
Ke depan, Aji berharap UMKM lokal dapat memperoleh lebih banyak akses promosi, kesempatan mengikuti berbagai kegiatan, serta dukungan pemasaran agar mampu naik kelas dan dikenal lebih luas. Ia juga berencana terus berinovasi, baik dari sisi kemasan maupun bentuk produk, tanpa menghilangkan ciri khas bolu kering yang telah menjadi identitas usahanya.
"Harapan kami UMKM bisa lebih dikenal lagi, mendapat sarana promosi yang lebih baik, dan memiliki kesempatan berkembang. Tujuan kami tentu ingin UMKM naik kelas, khususnya di Samarinda dan Kalimantan Timur," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....