Aktivis Nilai Samarinda Sudah Masuk Darurat Sampah
- 19 Jan 2026 03:50 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda pada 2025 mencatat volume timbunan sampah rumah tangga mencapai sekitar 600 ton per hari atau sekitar 219 ribu ton per tahun. Namun, dari jumlah tersebut, hanya sekitar 4,11 ton sampah per hari yang berhasil dikelola melalui bank sampah, sementara sisanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Menanggapi kondisi tersebut, Aktivis Lingkungan dari Komunitas Sadar Sampah, Khairuniisa Luthfiah, menilai Samarinda saat ini berada dalam kondisi darurat sampah.
“Dengan data yang seperti itu bisa dikatakan kita sebenarnya sedang darurat sampah, karena 600 ton itu banyak sekali. Dan bukan cuma 600 ton, tapi 600 sekian ton,” ujarnya saat menjadi narasumber obrolan SPADA Pro 2 RRI Samarinda, Jum’at 16 Januari 2026.
Ia menilai rendahnya kesadaran masyarakat turut dipengaruhi oleh minimnya akses untuk melihat langsung kondisi timbunan sampah di TPA. Menurutnya, masyarakat belum sepenuhnya memahami skala permasalahan yang terjadi.
“Masih banyak masyarakat yang melihat data itu seperti hal biasa saja, karena mereka tidak melihat sampahnya secara nyata. TPA kan tidak bisa dimasuki secara umum, jadi mereka tidak bisa melihat 600 ton itu sebenarnya sebanyak apa,” katanya.
Khairuniisa menambahkan, jika dibandingkan antara jumlah sampah yang dihasilkan dengan yang berhasil dikelola, angkanya masih sangat kecil.
“Kalau kita lihat datanya lebih jauh, 600 ton dan yang dikelola cuma 4,11 ton, itu sebenarnya tidak sampai satu persennya. Masih jauh sekali,” katanya, menambahkan.
Anggota WCD Kaltim ini juga mengungkapkan dampak langsung yang dirasakan warga, khususnya di kawasan Sambutan, tempat TPA baru berada. Ia mengatakan, wilayah tersebut menjadi jalur utama truk pengangkut sampah.
“Kadang anak-anak Sambutan disebut sebagai ‘tempat sampah’, karena memang kami jadi jalur utama truk-truk sampah. Kalau sore pulang kerja, kuliah, atau sekolah, pasti beriringan dengan truk sampah,” ujarnya.
Menurutnya, bau tidak sedap menjadi dampak yang dirasakan setiap hari oleh warga yang tinggal di jalur utama tersebut.
“Kalau rumahnya di jalur utama truk sampah lewat, baunya setiap hari. Itu dampak yang nyata dan langsung bisa dirasakan, apalagi oleh warga Sambutan,” katanya.
Meski demikian, ia tetap mengapresiasi keberadaan bank sampah yang telah membantu pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Kita juga harus bersyukur dengan 4,11 ton yang terkelola via bank sampah. Itu berarti sudah ada gerakan berbasis masyarakat yang mau membantu pemerintah mengelola sampah harian. Tapi memang PR-nya masih sangat banyak,” katanya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....