Samarinda Tetapkan Tanggap Darurat Kekeringan hingga 7 September 2026

  • 02 Sep 2026 10:10 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Pemerintah Kota Samarinda menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan untuk mengantisipasi berbagai dampak yang muncul akibat kemarau panjang. Status tersebut diberlakukan selama 14 hari, mulai 25 Agustus hingga 7 September 2026, dengan evaluasi berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan.

Kepala BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan, kekeringan tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air, tetapi juga memunculkan sejumlah bencana ikutan. Salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah kebakaran hutan dan lahan karena kondisi vegetasi yang semakin kering.

“Kenapa kita memilih bahasa tanggap darurat bencana kekeringan? Karena kekeringan itu ada bencana ikutannya. Pertama, kebakaran hutan dan lahan,” ujar Suwarso saat audiensi Tim Penyuluhan Karhutla Mabes TNI di Kantor BPBD Kota Samarinda, pada Selasa 1 September 2026.

Selain karhutla, kekeringan juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat akibat penurunan kualitas udara dari asap kebakaran. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Samarinda, hingga saat ini tercatat 709 orang terpapar infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.

Dampak lainnya adalah krisis air akibat menyusutnya sumber air sungai dan meningkatnya intrusi air laut ke Sungai Mahakam. Kondisi tersebut menyebabkan air baku di sejumlah instalasi pengolahan air tidak dapat diproduksi secara optimal karena kadar air asin yang masuk.

Kekeringan juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan, meskipun Samarinda bukan daerah utama penghasil pangan. BPBD mencatat lebih dari 600 hektare lahan sawah mengalami kekeringan, belum termasuk potensi gagal tanam dan gagal panen serta dampak terhadap sektor perikanan.

Suwarso menegaskan, penetapan status tanggap darurat dilakukan agar penanganan dapat bergerak lebih cepat sebelum dampak kekeringan semakin meluas. "Pemerintah juga telah mengaktifkan posko, struktur komando dan rencana operasi untuk memobilisasi seluruh potensi dalam menghadapi bencana kekeringan," ucap Suwarso.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....