Buku Cerita Anak Dwibahasa Jadi Strategi Pelestarian Bahasa Daerah di Kaltim

  • 09 Agt 2026 19:09 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Upaya pelestarian bahasa daerah terus dilakukan melalui berbagai pendekatan yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Salah satunya melalui pengembangan buku cerita anak dwibahasa yang memadukan bahasa daerah dengan bahasa Indonesia sebagai sarana memperkenalkan bahasa sekaligus budaya lokal kepada anak-anak.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program “Literasi Digital” Pro 1 RRI Samarinda, kerja sama RRI Samarinda dan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, dengan menghadirkan Penelaah Teknis Kebijakan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, Abdul Rahman, M.Pd. Dialog mengangkat tema “Buku Cerita Anak Dwibahasa Pelestari Bahasa Daerah”.

Abdul Rahman menjelaskan, buku cerita anak dwibahasa menggunakan dua bahasa, yakni bahasa daerah sebagai bahasa utama dan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya. Konsep tersebut dirancang agar anak dapat mengenal bahasa daerah sekaligus memahami isi cerita dengan lebih mudah melalui bahasa Indonesia.

Menurutnya, keberadaan bahasa daerah tetap penting di tengah kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Indonesia merupakan negara multilingual dengan ratusan bahasa daerah, sehingga pelestarian bahasa lokal menjadi bagian penting dalam menjaga kekayaan budaya dan identitas masyarakat. Bahasa daerah juga menjadi salah satu akar kebudayaan yang perlu terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Buku cerita anak dwibahasa dirancang semenarik mungkin agar sesuai dengan karakter dan kebutuhan pembacanya. Sasaran utamanya adalah pelajar SD hingga SMP awal, dengan bahasa yang sederhana serta dilengkapi ilustrasi yang berkaitan dengan budaya dan isi cerita. Selain diterbitkan dalam bentuk fisik, buku tersebut juga dapat diakses melalui laman Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur.

Abdul Rahman menegaskan, buku tersebut bukan sekadar hasil penerjemahan cerita yang sudah ada. Sebagian karya lahir melalui proses kreatif peserta dalam kegiatan bimbingan teknis penyusunan cerita anak dwibahasa. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai penyusunan cerita, pembuatan ilustrasi hingga proses seleksi, penyuntingan dan penerbitan.

Menurut Abdul Rahman, masa kanak-kanak merupakan periode penting dalam perkembangan bahasa karena anak sangat mudah menyerap apa yang didengar dari lingkungan sekitarnya. Karena itu, keluarga memiliki posisi strategis dalam menjaga agar bahasa daerah tetap digunakan dan tidak terputus antargenerasi.

“Karena usia anak itu kan istilahnya golden age, itu sangat peka di dalam perkembangan bahasanya. Apa yang mereka dengar itu cepat melekat. Bahasa itu tidak hanya faktor genetik, tapi faktor lingkungan yang sangat kuat,” ujarnya.

Keluarga pun didorong membiasakan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua dapat mengajarkan sejumlah kosakata kepada anak, membacakan cerita atau legenda dalam bahasa daerah sebelum tidur, sekaligus memperkenalkan budaya yang terkandung dalam cerita tersebut. Dengan demikian, anak tidak hanya mengenal bahasa, tetapi juga memahami nilai dan identitas budaya yang menyertainya.

Selain keluarga, sekolah juga memiliki peran strategis dalam memanfaatkan buku cerita anak dwibahasa. Buku tersebut dapat diintegrasikan dalam pembelajaran, terutama pada materi budaya dan kehidupan sosial, sehingga pelestarian bahasa daerah tidak hanya berlangsung di lingkungan keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan.

Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur juga mendorong masyarakat agar tidak sekadar menjadikan buku sebagai koleksi, tetapi benar-benar memanfaatkannya. Pemanfaatan dapat dilakukan melalui kegiatan membaca di keluarga, pembelajaran di sekolah maupun akses digital terhadap produk kebahasaan yang telah disediakan. Abdul Rahman juga mengingatkan masyarakat untuk tidak merasa malu menggunakan bahasa daerah.

“Untuk melestarikan bahasa daerah itu fungsi yang sangat penting salah satunya adalah di rumah. Jadi di rumah gunakanlah bahasa daerah. Jangan gengsi, jangan malu,” ucap Abdul Rahman.

Dengan buku cerita anak dwibahasa, pelestarian bahasa daerah diharapkan tidak berhenti pada upaya dokumentasi, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang menyenangkan bagi anak-anak. Kolaborasi keluarga, sekolah, masyarakat, penulis lokal, pemerintah dan lembaga kebahasaan menjadi kekuatan penting agar bahasa daerah tetap digunakan, dipahami dan diwariskan sebagai bagian dari kekayaan budaya Kalimantan Timur dan Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....