Jejak Sarekat Islam di Kaltim Dibukukan, dari Samarinda hingga Paser
- 12 Sep 2026 12:40 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Sejarah Sarekat Islam di Kalimantan Timur (Kaltim) kini diangkat dalam sebuah buku terbitan Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB) berkolaborasi dengan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Syarikat Islam Provinsi Kaltim.
Buku bertajuk "Sarekat Islam di Kalimantan Timur: Sejarah Perjuangan dari Pasar Pagi Samarinda, Istana Kutai, hingga Perang Sultan Paser” itu ditulis oleh Sejarawan Publik, Muhammad Sarip, dan diluncurkan di Ruang Ki Hajar Dewantara, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda pada Kamis, 10 September 2026.
Sarip menjelaskan, buku ini sengaja ditulis dengan gaya bahasa kekinian agar lebih akrab dengan pembaca masa kini. Pasalnya, selama ini terdapat gap bahasa ketika sejarah ditulis menggunakan bahasa baku.
“Banyak perubahan pada kata yang dulu dipakai dengan yang sekarang,” kata Sarip, dikutip rri.co.id dari keterangan resminya, Sabtu, 12 September 2026.
Dalam proses penyuntingan, Sarip mengungkapkan, dirinya dibantu Paramitha Putri Hidayat sebagai proofreader sekaligus desainer sampul. Menariknya, di tengah kecanggihan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), ia justru membuat sampul buku melalui aplikasi gratis tanpa bantuan AI.
Peluncuran buku tersebut turut dirangkai dengan diskusi publik yang membahas sejumlah persoalan sejarah. Mulai dari siapa yang layak disebut pelopor Kebangkitan Nasional, dominasi narasi sejarah Jawa, hingga kritik terhadap buku sejarah terbitan pemerintah.
Seperti buku Sejarah Indonesia Jilid I hingga V yang dirilis Kementerian Kebudayaan. Sarip menilai, narasi sejarah dalam buku tersebut masih cenderung Jawa-sentris karena peristiwa dan tokoh Kaltim hanya muncul sedikit dibandingkan sejarah Jawa.
"Misalnya, narasi Kerajaan di Kutai sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Dalam buku itu, pembahasannya hanya sekitar 15 halaman, bahkan belum mengungkap secara mendalam Raja Mulawarman dan Aswawarman. Sementara, sejarah Majapahit ditulis ratusan halaman pada beberapa bab," kata Sarip.
Karena itu, buku Sarekat Islam di Kaltim hadir untuk menambah catatan sejarah dari Bumi Etam. Buku ini juga mengangkat perjuangan Sarekat Islam dan tokoh-tokoh lokal yang belum banyak dikenal masyarakat.
Tak hanya Sarip, forum diskusi juga menghadirkan Ketua DPW Syarikat Islam Kalimantan Timur, Anas Yusfiuddin, yang menjelaskan cikal bakal Sarekat Islam.
"Jadi ini berawal dari masyarakat di Kampung Pasar Pagi Samarinda, dengan para tokohnya, antara lain Haji Ali Barack dan pembakal Anang Matarip," ucap Anas.
Melihat peluncuran buku catatan sejarah tersebut, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Samarinda, Barlin Hady Kesuma, menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan, upaya mencatat dan mengembangkan sejarah daerah tetap berjalan di tengah situasi yang penuh tantangan.
"Saya bersyukur ya karena di tengah efisiensi anggaran bisa berkolaborasi dengan Lasaloka-KSB menyelenggarakan sebuah forum diskusi publik tentang sejarah organisasi pergerakan nasional pertama di Kaltim," ujarnya.
Selain Barlin, peluncuran dan diskusi buku "Sarekat Islam di Kalimantan Timur: Sejarah Perjuangan dari Pasar Pagi Samarinda, Istana Kutai, hingga Perang Sultan Paser” juga mendapat antusias tinggi dari warga Kota Tepian dengan 60 kursi yang terisi penuh.
Sejumlah tokoh juga memberikan dukungan, di antaranya Kepala Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman, Rizal Izmi Kusumawijaya, serta pengajar sejarah MA Darussalam International Boarding School, Muhammad Ilham Syahputra.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....