Generasi Muda Perlu Jadi Jembatan Pelestarian Tradisi Lisan Kaltim

  • 06 Jul 2026 07:39 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda — Pelestarian tradisi lisan di Kalimantan Timur menghadapi tantangan berupa keterputusan pengetahuan antargenerasi. Kondisi tersebut membuat proses pewarisan budaya lokal semakin sulit, terutama ketika para pelaku utama atau maestro tradisi lisan sudah tidak lagi dapat mewariskan pengetahuannya secara langsung.

Dosen Sastra Indonesia Universitas Mulawarman, Nella Putri Giriani, mengatakan tradisi lisan hanya dapat bertahan apabila terus ditransmisikan secara lisan dari generasi ke generasi. "Tradisi atau sastra lisan memiliki indikator utama, yaitu diwariskan dari mulut ke mulut, dari generasi yang lebih tua kepada generasi berikutnya," ujarnya, dikutip 6 Juli 2026.

Menurut Nella, tantangan terbesar saat ini adalah terjadinya keterputusan pengetahuan antargenerasi. Hal tersebut juga ditemukan dalam proses pembelajaran di Program Studi Sastra Indonesia Universitas Mulawarman, khususnya melalui mata kuliah Folklor atau Tradisi Lisan.

Dalam mata kuliah tersebut, mahasiswa diberi proyek untuk turun langsung ke lapangan sebagai etnografer guna mendokumentasikan tradisi lisan yang masih hidup di kampung-kampung. Mereka diminta menuliskan hasil temuannya dalam bentuk esai sederhana.

Namun, pelaksanaan proyek tersebut justru mengungkap persoalan lain. Banyak mahasiswa mengalami kesulitan menemukan maestro budaya atau pelaku tradisi lisan yang masih menguasai pengetahuan lokal.

"Mahasiswa sudah memiliki semangat untuk mendokumentasikan, tetapi mereka kesulitan menemukan narasumber. Banyak maestro budaya yang sudah wafat atau usianya sudah sangat lanjut, sehingga pengetahuan yang mereka miliki tidak sempat diwariskan secara utuh," katanya.

Ia menambahkan, generasi usia produktif pun belum tentu memiliki ingatan yang utuh mengenai tradisi yang pernah berkembang di lingkungan mereka. Kondisi ini semakin memperlebar jarak pewarisan budaya antargenerasi.

Di sisi lain, Nella mengakui perubahan sosial merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Meski demikian, besarnya dampak perubahan tersebut terhadap budaya lokal masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam.

Keberadaan media digital telah mengubah cara masyarakat menerima sekaligus mewariskan tradisi. Jika sebelumnya seseorang harus mengalami langsung sebuah pertunjukan atau ritual budaya sebelum kemudian mengingat dan mendokumentasikannya, kini proses tersebut bergeser menjadi menonton melalui telepon genggam, lalu membagikannya kembali di media sosial.

Meski demikian, Nella menilai media digital tidak harus dipandang sebagai ancaman. Justru, teknologi dapat menjadi salah satu sarana untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan tradisi lisan kepada generasi muda apabila dimanfaatkan secara tepat.

Menurutnya, salah satu langkah penting adalah melakukan dekolonisasi pengetahuan, yakni mengembalikan pengetahuan lokal sebagai sumber utama pembelajaran di tengah dominasi berbagai referensi dari luar.

"Dengan menjadikan pengetahuan lokal sebagai pijakan utama, kita dapat bergerak bersama dari akar rumput untuk melestarikan tradisi lisan yang dimiliki Kalimantan Timur agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,"ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....