Media Digital Jadi Peluang Pelestarian Sastra Lisan Kaltim

  • 11 Jul 2026 16:12 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda — Perkembangan media sosial di era digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi keberlangsungan sastra lisan dan tradisi lokal di Kalimantan Timur. Di tengah derasnya arus budaya populer, media digital dinilai dapat menjadi ruang baru untuk mendokumentasikan dan memperkenalkan kekayaan budaya kepada generasi muda.

Dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, Nella Putri Giriani, mengatakan kehadiran media sosial tidak hanya perlu dilihat sebagai ancaman terhadap keberadaan tradisi lisan. Menurutnya, platform digital seperti TikTok, Instagram, maupun YouTube juga dapat dimanfaatkan sebagai arsip digital untuk menjaga warisan budaya.

"Kalau berbicara tentang media sosial, kita tidak bisa hanya melihatnya sebagai tantangan. Ini seperti dua sisi mata uang, ada tantangan tetapi juga ada peluang. Media baru ini bisa menjadi ruang untuk mendokumentasikan tradisi lisan yang ada di Kalimantan Timur," ujar Nella saat menjadi narasumber Talkshow Pro 4, dikuti, Sabtu 11 Juli 2026.

Ia menjelaskan, salah satu tantangan yang muncul adalah budaya lokal harus bersaing dengan berbagai konten populer yang lebih sering muncul di media sosial. Kondisi tersebut membuat cerita rakyat, ritual, dan berbagai bentuk sastra lisan membutuhkan strategi baru agar tetap dikenal oleh masyarakat luas.

Menurut Nella, dokumentasi digital menjadi langkah penting dalam menghadapi risiko hilangnya tradisi lisan. Ia menyebut warisan budaya tak benda perlu terus didokumentasikan, diwariskan, dan disebarluaskan agar tidak mengalami keterputusan antar generasi.

"Tradisi lisan seperti cerita rakyat, ritual, maupun pengetahuan lokal bisa kita dokumentasikan melalui media digital. Bahkan podcast seperti ini juga menjadi salah satu cara untuk menjaga agar pengetahuan tersebut tetap hidup," ucapnya.

Nella mencontohkan sejumlah inisiatif anak muda di Kalimantan Timur yang telah memanfaatkan media digital untuk mendokumentasikan budaya lokal. Salah satunya komunitas Tepian Kolektif di Berau yang mengangkat tradisi Guris, termasuk pengetahuan masyarakat terkait membaca kondisi alam dan mitigasi bencana melalui pemahaman terhadap arus sungai.

Selain itu, komunitas kreatif seperti Layar Mahakam dan komunitas film di Samarinda juga turut mendokumentasikan cerita mitos serta ritual pengobatan yang ada di Kedang Ipil. Menurutnya, upaya tersebut menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan budaya.

"Dengan adanya media sosial, informasi dan pengetahuan budaya bisa tersebar lebih luas. Anak-anak muda bisa lebih mengetahui dan memahami tradisi yang ada di daerahnya," katanya.

Terkait penggunaan bahasa daerah di tengah perkembangan bahasa gaul dan bahasa populer, Nella menilai kebanggaan terhadap budaya lokal perlu dibangun melalui pemahaman bahwa pengetahuan tradisional memiliki nilai penting bagi kehidupan masyarakat.

Nella berharap pelestarian sastra lisan dan tradisi lokal di Kalimantan Timur dapat dilakukan melalui berbagai strategi alternatif, termasuk melibatkan teknologi dan generasi muda. Menurutnya, upaya menjaga budaya harus dimulai dari masyarakat sendiri agar warisan tersebut tetap hidup dan terus diwariskan.

"Kita perlu bersama-sama dari tingkat akar rumput untuk melestarikan tradisi lisan yang ada di Kalimantan Timur," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....