Menjaga Marwah Kutai Melalui Revitalisasi Adab di Era Modern

  • 11 Apr 2026 11:42 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Pelestarian adab dan tata krama dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga identitas serta marwah masyarakat Kutai di tengah gempuran perubahan zaman dan arus modernisasi.

Hal ini menjadi bahasan utama dalam dialog budaya “Pantas Kutai” yang disiarkan oleh RRI Pro4 Samarinda, dikutip Sabtu 11 April 2026. Dalam dialog tersebut, narasumber menyerukan pentingnya mengembalikan nilai-nilai kesantunan yang mulai terkikis.

Adab dalam masyarakat Kutai bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan martabat diri dan kehormatan keluarga. Salah satu pegiat budaya Kutai, Busu Ipay, menekankan pendidikan adab seharusnya sudah ditanamkan di lingkungan keluarga sebelum seorang anak menempuh pendidikan formal di sekolah.

Menurutnya, orang yang berilmu belum tentu beradab, tetapi orang yang beradab sudah pasti memiliki dasar ilmu yang baik. Kekhawatiran pun muncul seiring perubahan perilaku generasi muda yang dinilai mulai meninggalkan tradisi luhur, seperti kebiasaan “betunduk” saat berjalan di depan orang tua serta tata cara bersalaman yang benar.

Fenomena ini dianggap sebagai sinyal bahaya bagi eksistensi budaya lokal jika tidak segera diantisipasi melalui pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.

“Jaga adab dan adat etam (kita) supaya tidak memalukan sesama orang Kutai. Biarkan orang luar yang datang mengetahui bahwa kita adalah bangsa yang beradab,” ujar Busu Ipay.

Pernyataan tersebut menegaskan, adab berfungsi sebagai filter budaya sekaligus menjadi daya tarik sosial bagi masyarakat pendatang.

Para pendengar yang turut berinteraksi dalam dialog itu juga menyoroti pengaruh teknologi dan media sosial yang mengubah pola komunikasi antara generasi muda dan orang tua. Jika dahulu teguran dari orang tua sudah cukup untuk menertibkan perilaku anak, kini tantangannya jauh lebih kompleks akibat masuknya budaya luar tanpa penyaringan.

Salah seorang penelepon, Busu Mamat, menambahkan adab merupakan napas kehidupan yang menjaga keharmonisan antarmanusia.

“Menjaga adab berarti menjaga kehormatan diri, keluarga, dan tanah air kita sendiri,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan tanpa adab, tatanan sosial masyarakat Kutai dikhawatirkan akan kehilangan jati dirinya.

Sebagai penutup, Busu Ipay mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk kembali menanamkan nilai etika dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Dengan menjunjung tinggi toleransi, keramahan, dan sopan santun, diharapkan budaya Kutai tetap lestari dan dihormati oleh siapa pun yang datang ke tanah etam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....