Musik Tradisi Kaltim Butuh Ruang Antar Generasi
- 11 Jul 2026 15:54 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Perkembangan musik tradisional Kalimantan Timur di tengah era digital membutuhkan ruang dialog antara generasi senior dan generasi muda. Tidak hanya menjaga bentuk pertunjukan, pelestarian musik tradisi juga berkaitan dengan mempertahankan nilai, makna, dan hubungan sosial yang terkandung di dalamnya.
Dosen Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, Nofriyan Hidayatulloh, mengatakan salah satu tantangan utama yang dihadapi pelaku seni dan musik tradisional saat ini adalah memperkuat komunikasi antargenerasi. Menurutnya, keberlanjutan musik tradisi tidak cukup hanya melalui dukungan pemerintah maupun lembaga pendidikan, tetapi juga membutuhkan hubungan yang lebih erat antara seniman senior dan generasi penerus.
"Mungkin yang perlu ditingkatkan adalah komunikasi antara generasi senior dan generasi muda. Karena dari sana ada proses berbagi pengalaman, pengetahuan, dan pemaknaan terhadap musik tradisi itu sendiri," ujar Nofriyan, dikutip Sabtu 11 Juli 2026.
Ia mencontohkan tradisi tingkilan dalam masyarakat Kutai. Menurutnya, sebagian seniman senior melihat bahwa betingkilan saat ini mulai kehilangan makna, meskipun aktivitas saling berbalas pantun masih dapat ditemukan dalam berbagai pertunjukan.
"Ada seniman senior yang mengatakan tingkilan masih ada, tetapi betingkilan sudah tidak ada, padahal kalau dilihat, masih ada bentuk saut-sautan di panggung. Namun, bagi mereka bukan itu yang dimaksud sebagai betingkilan," ucapnya.
Menurut Nofriyan, perbedaan pemaknaan tersebut perlu menjadi ruang diskusi bersama antara generasi lama dan generasi muda. Sebab, betingkilan tidak hanya berbicara tentang bentuk musik atau pertunjukan, tetapi juga menggambarkan bagaimana masyarakat Kutai membangun komunikasi, keakraban, dan hubungan sosial.
Ia menilai, inovasi dalam musik tradisional tetap diperlukan agar mampu mengikuti perkembangan zaman. Namun, proses perubahan tersebut perlu dilakukan dengan memahami nilai dasar yang ingin dipertahankan, sehingga inovasi tidak menghilangkan esensi dari budaya itu sendiri.
Terkait kolaborasi antara musik tradisional dan musik modern sebagai strategi pelestarian, Nofriyan menyebut perlu ada pemahaman lebih mendalam mengenai makna dari kata "lestari". Menurutnya, pelestarian tidak selalu berarti mempertahankan sesuatu dalam bentuk yang sama persis, tetapi menjaga nilai dan semangat yang ada di dalam tradisi tersebut.
Ia menjelaskan, musik tingkilan sendiri merupakan contoh bagaimana budaya dapat mengalami proses pertemuan dan akulturasi. Kehadiran alat musik gambus yang memiliki hubungan dengan budaya Timur Tengah menunjukkan bahwa tradisi juga mengalami perjalanan panjang melalui interaksi antarbudaya.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan kemunculan kecerdasan buatan (AI), Nofriyan berharap masyarakat dapat kembali melakukan refleksi terhadap nilai yang ditawarkan seni tradisi. "Di tengah zaman digital yang serba cepat, mungkin kita perlu memberikan jeda untuk melakukan refleksi, ada sesuatu yang organik dalam seni tradisi yang bisa menjadi tawaran bagi kita dalam menghadapi perubahan zaman," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....