Buku Sejarah Islam di Kaltim, Kupas Tumbuh dan Berakarnya Islam di Masyarakat

  • 02 Apr 2026 18:05 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Buku bertajuk “Sejarah Islam di Kalimantan Timur: Empat Setengah Abad Jaringan Dakwah, Ulama, dan Peradaban dari Kerajaan hingga Republik” menambah khazanah literatur yang merekam jejak panjang perkembangan Islam di Benua Etam. Karya ini resmi diluncurkan dalam kegiatan launching dan diskusi publik yang berlangsung di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kota Samarinda, Kamis, 2 April 2026 pagi.

Salah satu penulis sekaligus Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kalimantan Timur, Abdunnur, mengatakan buku tersebut ditulis untuk menghadirkan referensi sejarah Islam di Kalimantan Timur (Kaltim) yang selama ini masih minim.

“Buku ini menjadi inspirasi untuk menghadirkan sejarah dalam bentuk buku, sehingga masyarakat bisa memahami sejarah Islam di Kalimantan Timur,” kata Abdunnur.

Tidak hanya menjadi rujukan bagi masyarakat di Kaltim, ia juga menargetkan buku ini bisa dikenal sebagai sumber yang kredibel di tingkat nasional hingga global.

Di samping itu, buku ini juga ditujukan untuk generasi muda agar lebih mengenal sejarah daerahnya sebagai bagian dari jati diri mereka. Sebab menurut Abdunnur, pemahaman sejarah penting untuk membentuk karakter generasi di masa depan.

“Kalau generasi kita ingin menjadi generasi emas 2045, maka mereka harus menjadi generasi yang menghargai sejarah,” ujarnya.

Penulis Sejarah Islam di Kalimantan Timur: Empat Setengah Abad Jaringan Dakwah, Ulama, dan Peradaban dari Kerajaan hingga Republik sekaligus Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kalimantan Timur, Abdunnur. (Foto: RRI Samarinda/Chella)

Isi dan Penulisan Buku

Abdunnur menjelaskan, buku ini memuat perjalanan panjang perkembangan Islam di Kalimantan Timur sejak mulai masuk di Kerajaan Kutai Kartanegara sekitar tahun 1575 hingga era Republik. Penceritaannya dimulai dari kondisi masyarakat sebelum Islam berkembang, hingga bagaimana dakwah Islam beradaptasi dengan budaya lokal.

"Ada sejarah tentang Hindu sebelum masuknya Islam, perjalanan rumpun Melayu, kemudian juga hubungan dinamika, perjalanan masuknya perkembangan Islam yang juga berinteraksi dengan dinamika budaya Kalimantan Timur," kata Abdunnur.

Materi-materi itu dikumpulkan dari berbagai sumber, baik manuskrip maupun informasi dari keluarga para ulama di Kaltim. Bersama Sejarawan Publik yang juga merupakan penulis buku ini, Muhammad Sarip, dibantu Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB), buku tersebut berhasil ditulis dalam waktu sekitar tiga bulan.

“Sarip yang inisiatornya menghubungi saya. Narasumber keluarga dan para tokoh ulama memberikan informasi tidak hanya berupa cerita sejarah, tetapi juga fakta serta foto-foto terkait perkembangan Islam di Kalimantan Timur,” ujar Abdunnur.

Sementara itu, Sejarawan Publik yang juga penulis, Muhammad Sarip, mengatakan tujuannya menulis buku ini dilatarbelakangi minimnya literatur terbaru tentang sejarah Islam di Kaltim. Ia mengungkapkan, sejatinya Kaltim memiliki beberapa buku yang merekam jejak Islam. Namun, tidak ada yang menulisnya secara utuh.

“Dulu pernah ada literatur sejarah Islam di Kaltim sekitar 20 atau 30 tahun lalu. Adanya cuma parsial, terpecah-pecah dalam beberapa artikel. Nah, sekarang kita membuat naskah baru tentang perkembangan Islam,” kata Sarip.

Penulis Sejarah Islam di Kalimantan Timur: Empat Setengah Abad Jaringan Dakwah, Ulama, dan Peradaban dari Kerajaan hingga Republik sekaligus Sejarawan Publik, Muhammad Sarip. (Foto: RRI Samarinda/Chella)

Pesan Buku

Abdunnur menjelaskan, buku ini ingin menunjukkan bagaimana Islam berkembang di Kalimantan Timur melalui pendekatan yang menghargai perbedaan.

Menurutnya, para ulama di masa lalu menyampaikan dakwah dengan cara yang terbuka terhadap keragaman budaya dan masyarakat setempat. Perbedaan tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan sosial yang harmonis.

“Pesannya pemersatu perbedaan itu sendiri, sehingga berdampak sampai sekarang masyarakat Kalimantan Timur lebih mudah menerima perbedaan tapi tetap menjaga nilai kesatuan kebangsaan NKRI,” ujarnya.

Sementara itu, Sarip menilai, perjalanan para ulama dan tokoh Islam di masa lalu memberi pelajaran penting tentang bagaimana agama dijalankan dalam kehidupan masyarakat. Ia mengatakan, agama pada masa itu hadir untuk menjaga harmoni sosial, bukan menjadi alat kepentingan pribadi atau perebutan pengaruh.

"Tokoh zaman dulu tidak rebutan, misalnya, ketika pemilihan ketua. Mereka saling tunjuk menunjuk. Itu yang ingin kami sampaikan bahwa jaringan dakwah pada zaman itu menghidupkan agama, bukan cari hidup di agama," kata Sarip.

Buku “Sejarah Islam di Kalimantan Timur: Empat Setengah Abad Jaringan Dakwah, Ulama, dan Peradaban dari Kerajaan hingga Republik” ini rencananya akan disebarkan ke sejumlah perpustakaan, khususnya perpustakaan daerah supaya bisa dibaca masyarakat luas, terutama anak-anak muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....