Digitalisasi Budaya dan Muatan Lokal Jadi Strategi Pelestarian Kebudayaan
- 08 Jun 2026 05:40 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Pemerintah Kota Samarinda melalui Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan terus berupaya menyesuaikan pelestarian budaya dengan perkembangan teknologi. Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Samarinda, Barlin Hady Kesuma, mengatakan teknologi informasi harus dimanfaatkan sebagai salah satu ujung tombak dalam pemajuan kebudayaan.
Menurut Barlin, berbagai kegiatan budaya yang dilaksanakan saat ini tidak hanya didokumentasikan secara administratif, tetapi juga direkam dalam bentuk visual dan audio. “Selain mendata, kami juga merekam dan menyimpan berbagai karya budaya yang ditampilkan dalam festival maupun workshop agar tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan di masa mendatang,” ujarnya dalam Program Obrolan Budaya Pro 4, dikutip Senin, 8 Juni 2026.
Ia menilai salah satu penyebab rendahnya minat generasi muda terhadap budaya lokal adalah minimnya konten budaya yang hadir di ruang digital. “Karena itu kami mendorong promosi budaya melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok agar masyarakat lebih mudah mengakses informasi tentang sejarah dan kebudayaan Kota Samarinda,” katanya.
Barlin menegaskan bahwa budaya lokal harus tampil lebih kuat di ruang digital agar tidak kalah dengan berbagai konten dari luar daerah. “Jangan sampai Samarinda dikenal karena hal lain, sementara budayanya sendiri tidak ditampilkan dan dikenalkan kepada masyarakat luas,” ucapnya.
Selain digitalisasi budaya, Disdikbud juga mendorong pelestarian seni tradisional melalui dunia pendidikan. Salah satunya dengan memperkenalkan Sandiwara Mamanda ke sekolah-sekolah melalui surat edaran dan berbagai pertunjukan yang melibatkan generasi muda. “Kami menghadirkan Mamanda versi asli dan versi Gen Z agar seni pertunjukan ini lebih dekat dengan anak-anak muda,” kata Barlin.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil dengan munculnya sejumlah ekstrakurikuler Mamanda di sekolah-sekolah Kota Samarinda. “Ke depan kami berharap ada festival atau lomba Mamanda sehingga siswa dapat menunjukkan bakatnya sekaligus ikut melestarikan seni pertunjukan khas daerah,” ujarnya.
Tidak hanya seni pertunjukan, berbagai cerita rakyat Samarinda juga terus diperkenalkan melalui komunitas pendongeng. “Kisah seperti Ular Lembu, Putri Junjung Buih, hingga cerita Pesut harus terus diwariskan karena memiliki nilai budaya yang dapat menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif,” katanya.
Menurut Barlin, teknologi seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman bagi budaya, melainkan sebagai sarana untuk berkarya. “Anak-anak perlu didorong membuat video, film pendek, musik, atau konten digital tentang sejarah dan budaya daerah sehingga teknologi digunakan untuk hal-hal yang lebih positif dan produktif,” ujarnya.
Untuk jangka panjang, pemerintah berupaya mengintegrasikan kebudayaan ke berbagai sektor, termasuk pendidikan. Barlin menjelaskan saat ini Kota Samarinda telah memiliki 24 pilihan muatan lokal berbasis budaya, mulai dari bahasa daerah, tari tradisional, cerita rakyat, tata boga, tata busana, hingga olahraga tradisional. “Kami ingin kebudayaan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak melalui kurikulum yang relevan dengan lingkungan mereka,” ucapnya.
Ia menambahkan pembelajaran bahasa daerah juga terus diperkuat melalui penyediaan buku dan program muatan lokal di sekolah. “Harapan kami, bakat dan kecintaan generasi muda terhadap budaya dapat tumbuh sejak dini sehingga kebudayaan Samarinda tetap lestari dan berkembang di masa depan,” kata Barlin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....