Kerugian Ekonomi dan Ekologis di Kalimantan Timur akibat Karhutla
- 22 Sep 2026 07:07 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Timur telah menyentuh taraf yang sangat mengkhawatirkan. Tidak hanya menghancurkan ekosistem, karhutla juga melumpuhkan aktivitas ekonomi serta mengancam kesehatan masyarakat secara luas.
Pengurus Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLH SDA) MUI Kaltim, Ustaz Enggar Setiabudi, memaparkan rekam jejak bencana karhutla besar yang pernah melanda Indonesia, salah satunya pada tahun 2015 silam. Berdasarkan perhitungan para ahli, estimasi nilai kerugian yang ditimbulkan pada masa itu mencapai angka yang sangat fantastis.
"Kalau kita flashback ke belakang bahwa kebakaran hutan ini sudah sering terjadi. Kemudian 2015 yang menurut para ahli dihitung kerugian yang diakibatkan kebakaran hutan dan lahan di adalah kurang lebih Rp221 triliun, sebuah angka yang sangat besar," ujarnya dalam program Mutiara Pagi di Pro1 RRI Samarinda, dikutip Selasa 22 September 2026.
Kerugian tersebut mencakup kehancuran kayu komersial di kawasan hutan serta musnahnya sumber daya yang menjadi bahan obat-obatan alami bagi masyarakat adat. Selain itu, kepunahan satwa langka yang dilindungi seperti orangutan yang terperangkap dan mati terbakar menjadi ancaman nyata bagi generasi mendatang.
Di sektor kesehatan publik, pekatnya asap karhutla memicu lonjakan penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi udara yang memburuk bahkan memaksa otoritas setempat meliburkan sekolah dan mengalihkan proses belajar mengajar secara daring.
Sektor perhubungan dan perdagangan pun ikut lumpuh akibat jarak pandang yang terbatas. Gangguan penerbangan di bandara udara hingga berhentinya transaksi ekonomi warga di pasar-pasar lokal menambah daftar panjang kerugian finansial daerah.
“Kemarin kondisi udara di Kutai Barat itu sudah sangat-sangat buruk karena adanya asap kebakaran hutan dan lahan, sehingga menyebabkan sekolah-sekolah itu diliburkan atau istilahnya adalah belajar dari rumah, belajar secara online, seperti zaman kita waktu COVID, karena memang kondisi udara sangat-sangat buruk," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....