Analisis Penyebab Karhutla Menggunakan Teori Segitiga Api

  • 22 Sep 2026 07:00 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Pengurus Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLH SDA) MUI Kaltim, Ustaz Enggar Setiabudi, menganalisis penyebab fenomena kebakaran hutan dan lahan yang marak terjadi di wilayah Kalimantan Timur menggunakan Teori Segitiga Api.

Dalam program Mutiara Pagi di Pro1 RRI Samarinda, Ustaz Enggar memaparkan konsep dasar pembentukan api yang dikenal dengan istilah Teori Segitiga Api. Secara ilmiah, kebakaran baru dapat terjadi apabila tiga unsur utama saling bertemu dalam satu kondisi.

Tiga unsur pembentuk kebakaran tersebut meliputi ketersediaan oksigen, bahan bakar yang cukup, serta pemantik atau sumber api. Dalam ekosistem hutan, keberadaan oksigen dan bahan bakar kering seperti dedaunan, serasah, maupun semak belakangan sudah tersedia secara alami.

"Di sebuah kawasan hutan itu ada oksigen dan bahan bakar. Bahan bakar yang di hutan itu adalah serasa-rasa di lantai hutan, kemudian pakis-pakis kering, alang-alang dan lain sebagainya itu sudah ada dan itu adalah given dari sananya secara alam, apalagi dalam musim panas, musim kering seperti ini, itu sangat banyak," ujarnya, dikutip Selasa 22 September 2026.

Oleh karena itu, keberadaan faktor ketiga yakni pemantik api menjadi variabel kunci pemicu kebakaran. Kecuali pada daerah vulkanik atau area dengan kandungan batu bara membara di bawah tanah, sumber api di lahan gambut dan hutan tanah mineral hampir dipastikan dibawa oleh aktivitas manusia.

Berdasarkan hasil pemantauan dan laporan dari berbagai lembaga riset maupun NGO, terindikasi bahwa sebaran titik panas (hotspot) banyak terdeteksi di area operasional atau konsesi perusahaan.

"Sehingga menurut saya bahwa kebakaran hutan saat ini itu bukan hanya sebuah bencana alam tetapi memang bencana akibat kegiatan manusia, akibat olah manusia," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....