MUI Kaltim Ajak Umat Teladani Rasulullah untuk Jaga Perdamaian dan Persatuan
- 14 Sep 2026 07:25 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak berhenti pada ungkapan kebahagiaan atau peringatan secara seremonial. Kecintaan tersebut perlu diwujudkan melalui nilai moral dan kebangsaan, terutama dalam menjaga perdamaian dan ukhuwah di tengah masyarakat Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Lembaga Pembina Muallaf Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Timur, Ustaz Nirhamna Hanif Fadillah, dalam siaran Mutiara Pagi, Kamis 10 September 2026.
Ia mengajak umat Islam untuk menjadi ummatan wasatan, yakni umat yang mengambil sikap moderat dan seimbang dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, sikap tersebut penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang memiliki keberagaman suku, agama, budaya, dan latar belakang.
“Ummatan wasatan yang dimaksudkan di sini adalah menjadi seorang Muslim yang pertama jelas, yang berakidah atau berpaham Ahlusunah waljamaah. Ahlusunah waljamaah berarti kita harus memiliki pemahaman atau pemikiran yang mendalam sebagai seorang mukmin atau Muslim yang berbangsa,” kata Ustaz Nirhamna.
Menurutnya, kehidupan dalam masyarakat yang majemuk membutuhkan sikap saling menghormati dan kemampuan menjaga keseimbangan antara kehidupan beragama dan kehidupan bermasyarakat.
Kondisi kekeringan serta keterbatasan air di sejumlah wilayah juga menjadi situasi yang membutuhkan ketenangan dan kesabaran. Dalam menghadapi kondisi tersebut, umat Islam diharapkan mampu menjaga sikap lahir dan batin agar tidak mudah panik serta tetap mengedepankan kepedulian terhadap sesama.
| Baca juga: Konsep dan Sejarah Filosofis Literasi |
Ustaz Nirhamna menegaskan bahwa Rasulullah SAW diutus bukan hanya untuk satu kelompok atau wilayah tertentu, melainkan membawa rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, keteladanan Rasulullah SAW semestinya menjadi rujukan dalam membangun hubungan sosial di tengah masyarakat.
Perjalanan hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah menjadi salah satu contoh penting mengenai bagaimana Islam hadir dan berinteraksi dengan masyarakat.
Di Madinah, Rasulullah SAW tidak hanya menjalankan dakwah, tetapi juga menjadi bagian dari tatanan sosial masyarakat. Beliau membangun kehidupan bersama dengan mengedepankan hubungan sosial, kebersamaan, serta nilai-nilai yang memungkinkan masyarakat hidup secara damai di tengah perbedaan.
“Rasulullah sebagai contoh figur bahwa dakwah beliau itu adalah dengan lemah lembut. Bahkan beliau itu dengan ketenangan yang luar biasa, kebahagiaan yang luar biasa, senyumnya yang luar biasa,” ujarnya.
Nilai kasih sayang, persaudaraan, toleransi, perdamaian, dan sikap moderat dinilai sangat relevan untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia.
Dengan menjadikan Rasulullah SAW sebagai tuntunan, umat Islam diharapkan mampu menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sikap tersebut juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama, menjaga kerukunan, serta ikut merawat kedamaian dan persatuan bangsa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....