Mahasiswa Papua di Samarinda Hadapi Tantangan Adaptasi Budaya dan Komunikasi

  • 30 Apr 2026 17:19 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Mahasiswa asal Papua yang menempuh pendidikan di Samarinda, Kalimantan Timur, menghadapi berbagai pengalaman baru, mulai dari perbedaan budaya hingga cara berkomunikasi. Hal ini dirasakan oleh Maria Mey, Ketua Mahasiswa Papua di Samarinda yang saat ini menempuh studi semester enam di Program Studi Teknik Pertambangan, Universitas Mulawarman.

Maria mengungkapkan keputusannya kuliah di Kalimantan Timur tidak terlepas dari program beasiswa yang diikutinya. Dalam program tersebut, peserta diminta memilih perguruan tinggi di luar Papua.

“Waktu itu saya ikut program beasiswa dari Dikti yang ditujukan untuk daerah 3T, bukan hanya untuk orang Papua. Saya memilih jurusan pertambangan karena melihat Kalimantan Timur memiliki potensi besar di bidang tersebut,” ucap Maria Mey pada Kamis 30 April 2026.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa Papua se-Kalimantan, Noor Syaiful, juga memiliki alasan tersendiri memilih Universitas Mulawarman sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Ia tertarik dengan perkembangan Kalimantan Timur, khususnya sejak rencana pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) mencuat.

“Saat kelas 11 SMA pada 2022, saya melihat pembangunan besar di Kalimantan Timur. Saya memilih kuliah di sini agar bisa melihat langsung perkembangan IKN sekaligus membuka peluang kerja di masa depan,” ucap Noor Syaiful.

Namun, proses adaptasi tidak selalu berjalan mudah. Noor mengaku perbedaan cara berkomunikasi menjadi tantangan tersendiri saat pertama kali datang ke Samarinda.

“Di Papua, cara bicara cenderung cepat, sedangkan di sini lebih tenang. Saya harus menyesuaikan cara bicara, termasuk memahami logat yang berbeda,” ucapnya.

Selain bahasa, perbedaan budaya juga menjadi pengalaman baru bagi para mahasiswa Papua. Noor mengaku terkesan dengan budaya lokal Kalimantan Timur, terutama tarian Dayak yang memiliki karakter berbeda dengan tarian di Papua.

“Saya melihat tarian Dayak lebih gemulai, berbeda dengan tarian di Papua yang mencerminkan keseharian masyarakat di sana,” ucap Noor.

Maria juga menyoroti adanya kesalahpahaman dalam komunikasi akibat perbedaan intonasi. Ia menyebutkan bahwa cara berbicara masyarakat Papua yang cenderung bernada tinggi kerap disalahartikan.

“Kadang orang mengira saya marah, padahal memang seperti itu cara bicara kami. Tapi seiring waktu, saya mulai bisa mengontrol intonasi agar tidak terjadi salah paham,” ucap Maria Mey.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....