Cinta kepada Rasulullah SAW Harus Melebihi Segalanya
- 14 Apr 2026 13:13 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Solo - Habib Achmad memulai tausiyahnya dengan mengucap alhamdulillah dan salawat kepada Rasullullah SAW.
"Kita diperintahkan oleh Allah untuk mencintai Nabi Muhammad lebih dari cinta kita kepada ayah, ibu, anak, harta, atau apapun yang kita miliki di dunia ini, " ujar Habib.
Cinta kepada Rasulullah harus melebihi segalanya. Dalam hadis disebutkan bahwa keimanan seseorang belum sempurna hingga ia mencintai Nabi lebih daripada anak, ayah, dan seluruh manusia di bumi.
Karena itu, kita perlu terus mempelajari sejarah hidup Nabi Muhammad dan mendengarkan kisah-kisah tentang beliau supaya cinta kita bertambah.
Jika kita ingin benar-benar mencintai Nabi, maka contohlah para sahabat yang hidup pada masa beliau.
Mereka adalah teladan sejati dalam mencintai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
“Bagaimana dahulu para sahabat mencintai Rasulullah? Sayyidina Ali berkata, demi Allah, kami mencintai Rasulullah lebih dari harta, ayah, ibu, bahkan lebih dari rasa dahaga akan air dingin,” ujar Habib Achmad.
Ini bukan sekadar pengakuan jika kita baru sampai pada tahap mengaku mencintai Nabi, para sahabat sudah membuktikan cintanya dengan meninggalkan harta dan keluarga saat hijrah dari Mekah ke Madinah.
Saat hijrah, para sahabat melakukannya secara diam-diam, meninggalkan rumah, ladang, dan ternak demi taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Contohnya, Suhaib ibn Sinan Ar-Rumi yang saat hendak hijrah dihadang oleh kaum Quraisy. Dia berkata, “Aku punya harta, aku berikan semuanya asal diizinkan melintas”.
Nabi berkata bahwa harta yang diserahkan di jalan Allah akan diganti berkali-kali lipat.
| Baca juga: Menelusuri Sejarah Lahirnya Kalender Hijriah |
Pengorbanan seperti ini menunjukkan betapa besar cinta mereka kepada Nabi, melebihi cinta kepada keluarga dan harta.
Bukan hanya kaum laki-laki, kaum wanita pun menunjukkan hal yang sama.
Ada seorang wanita Ansar yang ketika perang selesai, dia hanya peduli kabar Rasulullah daripada keluarganya yang gugur.
Setiap kali mendapat kabar buruk tentang keluarganya, ia tetap tenang karena khawatirnya pada Nabi lebih besar dari rasa kehilangan itu sendiri..
Jika Nabi dan keluarganya selamat, maka musibah tersebut terasa ringan baginya.
Para sahabat benar-benar mencintai Nabi Muhammad sampai rela mempertaruhkan nyawa dan harta.
Saat Zaid ibn Tsabit dihadapkan pada ancaman mati, dia menolak pengganti, berharap Nabi selamat walaupun dirinya yang harus menghadapi risiko.
Abu Sufyan disaat masih musyrik, mengakui bahwa cinta para sahabat kepada Nabi Muhammad tidak pernah ia saksikan pada orang lain.
Bahkan ketika perang Uhud, seorang pemanah selalu berdiri dekat Nabi, menjaga beliau dari bahaya, rela mengorbankan nyawanya demi keselamatan Rasulullah.
Para sahabat tidak hanya mengaku cinta, tapi benar-benar membuktikannya dengan tindakan dan pengorbanan.
Setelah wafatnya Nabi, mereka menangis mengenang wahyu yang berhenti turun, amal ibadah dan wasiat beliau.
Para tabi’in dan generasi penerus pun sering menangis ketika menyebut nama Nabi, sebuah ungkapan cinta yang tulus dan mendalam.
Tangisan mereka bukanlah kesedihan biasa, melainkan manifestasi dari mahabbah atau cinta yang sejati kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....