Bareta Samarinda: Konseling Keluarga Kunci Terapkan Cinta Tegas

  • 06 Apr 2026 11:59 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Penerapan konsep cinta tegas dalam rehabilitasi pecandu narkoba terus diperkuat melalui pendekatan keluarga. Hal ini disampaikan Konselor Adiksi Ahli Pertama Bareta Tanah Merah Samarinda, Endah Meilinda, dalam siaran Pro 1 RRI Samarinda.

Endah menjelaskan, pihaknya tidak hanya fokus pada pemulihan klien, tetapi juga melibatkan keluarga melalui berbagai program pendampingan. “Selama ini kita juga melakukan konseling keluarga, jadi bukan hanya klien, tapi keluarga juga kita dampingi,” ujar Endah, dikutip Senin 6 April 2026.

Ia menyebutkan, terdapat sejumlah kegiatan yang dirancang khusus untuk keluarga, seperti family dialog dan family support group. Program ini digelar secara rutin setiap bulan sebagai ruang berbagi sekaligus edukasi bagi keluarga klien.

“Family support group itu pertemuan keluarga sebulan sekali. Di situ kita berikan edukasi terkait kondisi klien yang menjalani rehabilitasi,” kata Endah. Menurutnya, pemahaman keluarga menjadi faktor penting dalam keberhasilan proses pemulihan.

Dalam sesi konseling, keluarga juga diajarkan cara berkomunikasi yang lebih efektif dan asertif. Pendekatan ini bertujuan agar keluarga mampu memberikan dukungan tanpa kehilangan ketegasan terhadap klien.

“Kita edukasi keluarga, komunikasinya kita tegaskan lagi, dan belajar untuk asertif kepada klien,” ujar Endah. Ia menambahkan, komunikasi yang tepat dapat membantu membangun hubungan yang sehat antara klien dan keluarga.

Endah juga mengungkapkan selama menjalani rehabilitasi, klien masih memiliki akses komunikasi dengan keluarga. Kondisi ini sering dimanfaatkan klien untuk meminta berbagai hal di luar kebutuhan utama.

“Kadang klien masih minta kirim ini dan itu. Nah, di sini kita ajarkan bahwa tidak semua permintaan harus dipenuhi,” ucapnya. Menurutnya, hal ini menjadi bagian penting dalam membentuk kedisiplinan klien.

Ia menegaskan, ada kalanya permintaan klien dapat dipenuhi, namun harus melalui pertimbangan yang jelas. Pendekatan ini dilakukan agar klien memahami adanya batasan dalam setiap tindakan. Dengan begitu, klien diajak untuk memahami konsekuensi dari setiap keinginan yang disampaikan.

“Ada yang memang kita iyakan, tapi ada juga yang tidak. Itu bagian dari proses pembelajaran,” katanya.

Lebih lanjut, keluarga juga didorong untuk tidak selalu memenuhi keinginan klien secara instan. Klien perlu melalui proses dan usaha tertentu sebelum mendapatkan apa yang diinginkan.

“Tidak semua yang mereka inginkan harus dipenuhi. Ada proses, ada yang harus dicapai dulu,” ujar Endah. Ia menambahkan, pendekatan ini membantu membangun rasa tanggung jawab dalam diri klien.

Melalui konseling keluarga yang konsisten, diharapkan konsep cinta tegas dapat diterapkan secara optimal. Kolaborasi antara konselor dan keluarga menjadi kunci dalam menciptakan pemulihan yang berkelanjutan bagi klien rehabilitasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....