Makna Mendalam Tradisi Bulan Suro Kalender Jawa

  • 20 Jun 2025 19:45 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda : RRI Pro4 Samarinda kembali menghadirkan program budaya unggulan Pesona Antar Komunitas Jawa (PANTAS JAWA), kali ini mengangkat tema “Tradisi Bulan Suro”. Menghadirkan Mbah Sapar, tokoh budaya Jawa, untuk mengulas makna mendalam di balik tradisi Suro yang masih lestari di kalangan masyarakat Jawa, khususnya di Kalimantan Timur.

Bulan Suro, bulan pertama dalam kalender Jawa yang bersamaan dengan Muharram dalam kalender Hijriyah dipandang sebagai waktu yang sakral. Mbah Sapar menjelaskan bahwa bulan ini merupakan momen untuk introspeksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta membersihkan batin dari energi negatif.

“Bulan Suro adalah waktu untuk menyepi, merenung, dan memperbaiki diri. Ada banyak nilai spiritual yang bisa kita pelajari dari tradisi ini,” kata Mbah Sapar.

Sejumlah tradisi khas dijalankan masyarakat Jawa saat Bulan Suro, di antaranya Kadang Rumasa yaitu ritual malam yang dipercaya meredam aura negatif dan menyeimbangkan energi batin.

“ Kemudian Lebaran Pasaran, tradisi berbagi makanan kepada tetangga sebagai simbol syukur dan solidaritas”, sebutnya.

Lanjut Mbah Sapar tradisi berikutnya Ziarah ke Makam Leluhur yaitu wujud penghormatan kepada pendahulu sekaligus memohon restu dan perlindungan.

Tradisi selanjutnya Ruwatan ini merupakan upacara adat yang bertujuan menghapus kesialan dan membuka jalan hidup yang lebih baik. “Terakhir tradisi Larangan Suro, kalau ini seperti tidak bepergian jauh atau memulai usaha baru, yang diyakini untuk menghindari mara bahaya”, ujarnya.

Tradisi ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga mengajarkan nilai sosial dan moral, seperti kebersamaan, empati, dan penghormatan terhadap alam serta leluhur.

Mbah Sapar menekankan bahwa ritual Bulan Suro bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial dan menjaga keharmonisan lingkungan. Kegiatan gotong royong saat Suro diyakini mampu menumbuhkan rasa peduli dan memperkuat jalinan antarwarga.

Dalam konteks modern, pelestarian tradisi ini menjadi penting untuk menjaga identitas budaya, terutama di tengah arus globalisasi dan kehidupan yang serba digital.

“Anak muda zaman sekarang harus diajak memahami nilai-nilai budaya. Tradisi Suro bukan kuno, tapi kaya akan kearifan,” ucap Mbah Sapar.

Tradisi Bulan Suro bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kekuatan budaya yang masih hidup. Dengan nilai spiritual dan sosial yang tinggi, serta dukungan media dan komunitas, tradisi ini bisa terus diwariskan sebagai bagian dari jati diri bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....