Kemarau Panjang, BPBD Mahulu Perkuat Kesiapsiagaan Masyarakat

  • 20 Agt 2026 05:08 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Musim kemarau berkepanjangan mulai memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Kondisi cuaca yang panas dan minim hujan dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan debit Sungai Mahakam menurun drastis, terutama di wilayah perbatasan seperti Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai. Kondisi tersebut turut memengaruhi kelancaran transportasi dan distribusi logistik masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mahakam Ulu, Agus Darmawan, S.Pd., M.Si., dalam program Kentongan RRI Samarinda, Selasa, 18 Agustus 2026. Menurutnya, kondisi cuaca saat ini cukup ekstrem dan mulai menimbulkan kekhawatiran karena Sungai Mahakam merupakan jalur transportasi vital bagi masyarakat di sejumlah wilayah Mahakam Ulu.

“Cuaca di Mahakam Ulu kita lihat sangat panas karena memang dalam beberapa minggu ini tidak ada hujan, ditambah lagi dengan kabut-kabut asap sedikit yang ada menyelimuti di sebagian besar wilayah Kabupaten Mahakam Ulu. Ini juga sangat berdampak sekali untuk masyarakat kita karena salah satu jalur transportasi kita yang vital mengalami penurunan debit air,” ujar Agus.

Penurunan debit Sungai Mahakam mulai mengganggu mobilitas masyarakat dan distribusi kebutuhan pokok. Di sejumlah titik, terutama wilayah Kecamatan Laham, terjadi pendangkalan yang membuat perahu cepat atau speedboat mengalami kesulitan melintas, khususnya ketika membawa muatan berat. Sementara itu, untuk wilayah Long Bagun dan Long Bagun Hilir, distribusi logistik masih dapat dialihkan melalui jalur darat.

Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terjadi di Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai yang berada di wilayah hulu dan memiliki keterbatasan akses transportasi. BPBD Mahakam Ulu bersama pemerintah daerah telah melakukan koordinasi untuk menetapkan status siaga darurat kekeringan fluvial yang menyebabkan penurunan debit Sungai Mahakam dan mengganggu jalur transportasi serta distribusi logistik.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah daerah menyiapkan jalur alternatif distribusi bantuan. Pengangkutan bantuan dari Ujoh Bilang menuju Long Pahangai akan memanfaatkan jalur darat hingga Kampung Lompaka, kemudian dilanjutkan menggunakan transportasi sungai dengan muatan yang disesuaikan kondisi sungai. Pemerintah juga berkoordinasi dengan instansi teknis untuk memperbaiki ruas jalan dari Long Paka menuju Kampung Tiong Ohang sepanjang sekitar 24,4 kilometer.

Dari sisi kebutuhan dasar, masyarakat di Long Apari dan Long Pahangai mulai menghadapi berkurangnya ketersediaan sembako yang diikuti kenaikan harga. Selain bahan pangan, kebutuhan seperti BBM dan LPG juga menjadi perhatian. Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu telah melakukan operasi pasar murah dan beberapa kali menyalurkan bantuan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga telah memberikan dukungan bantuan sekitar 60 ton yang selanjutnya akan didistribusikan kepada masyarakat di dua kecamatan tersebut.

“Ketersediaan sembako memang sudah mulai berkurang, walaupun ada memang harganya sudah sangat tinggi melambung dan itu juga dibarengi dengan kesulitannya BBM dan gas LPG. Itu menjadi kebutuhan dasar yang harus segera pemerintah upayakan,” kata Agus.

Selain kekeringan dan gangguan distribusi, musim kemarau juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski demikian, Agus menyebut potensi karhutla di Mahakam Ulu relatif rendah dibandingkan sejumlah kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Timur. Berdasarkan pemantauan titik panas BMKG hingga 17 Agustus 2026, tercatat tiga titik hotspot di Mahakam Ulu.

BPBD tetap melakukan pemantauan terhadap aktivitas pembukaan lahan masyarakat, mengingat sebagian masyarakat Mahakam Ulu masih menjalankan tradisi berladang dengan pembakaran lahan. Untuk mencegah api meluas, masyarakat diimbau membuat sekat bakar yang lebar dan bersih serta melaporkan aktivitas pembakaran lahan kepada pihak terkait. BPBD juga mengandalkan koordinasi dengan kepala kampung, masyarakat peduli api, relawan kampung, TNI, Polri dan lintas sektor.

Dalam menghadapi keterbatasan sumber daya manusia dan peralatan, BPBD Mahakam Ulu memperkuat kesiapsiagaan berbasis masyarakat. Sebanyak 50 kampung telah terhubung melalui grup komunikasi untuk memantau perkembangan kebencanaan. BPBD juga telah menyalurkan pompa apung ke sejumlah kampung serta mendapatkan dukungan peralatan dari Dinas Pemadam Kebakaran, meski Agus mengakui sarana dan prasarana penanggulangan bencana masih jauh dari kondisi ideal.

Menghadapi kemungkinan kemarau yang berlangsung lebih panjang, pemerintah juga menyiapkan skenario pengalihan distribusi melalui jalur darat. Pelaku usaha diimbau memiliki rencana alternatif untuk menjaga pasokan barang, sementara pemerintah berkoordinasi dengan instansi perhubungan dan teknis lainnya untuk memastikan jalur darat tetap dapat digunakan. Masyarakat pun diminta meningkatkan kewaspadaan saat menggunakan transportasi darat karena meningkatnya aktivitas angkutan logistik dan penumpang.

Agus mengimbau masyarakat, khususnya warga Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai, agar tidak panik menghadapi kondisi kemarau. Pemerintah daerah bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus berupaya mempercepat distribusi bantuan dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Sementara itu, seluruh masyarakat diingatkan untuk berhati-hati dalam beraktivitas, menjaga lingkungan, serta segera melaporkan setiap potensi bahaya. Kesiapsiagaan bersama antara pemerintah, pemerintah kampung, relawan dan masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana selama musim kemarau di Mahakam Ulu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....