Pertanian Digital Jadi Harapan Generasi Muda
- 04 Jul 2026 12:50 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Perubahan cuaca yang kerap terjadi di berbagai daerah, termasuk di Samarinda, masih sering menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Banyak yang menganggap cuaca dan iklim merupakan istilah yang sama, padahal keduanya memiliki makna yang berbeda. Dosen Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman, Ananda Nuryadi Pratama, S.P., Ph.D., menjelaskan bahwa pemahaman mengenai perbedaan keduanya sangat penting, terutama bagi sektor pertanian.
Menurut Ananda, cuaca merupakan kondisi atmosfer yang terjadi dalam jangka waktu harian, sedangkan iklim menggambarkan pola cuaca dalam periode yang lebih panjang. Ia menilai kondisi cuaca di Kalimantan sejak dahulu memang cenderung sulit diprediksi. "Cuaca itu kondisi harian, sedangkan iklim adalah kondisi dalam periode yang lebih panjang. Di Kalimantan memang sudah biasa musim hujan tetap panas, atau saat musim kemarau tiba-tiba turun hujan hingga menyebabkan banjir," ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, memberikan tantangan tersendiri bagi para petani. Aktivitas seperti penyemprotan hama, pemupukan, hingga penjadwalan tanam dapat terganggu apabila prakiraan cuaca tidak diperhatikan dengan baik. Karena itu, petani masa kini dituntut lebih adaptif dengan perkembangan teknologi informasi agar dapat memanfaatkan data prakiraan cuaca secara akurat.
Ananda mengatakan perkembangan teknologi telah membuka peluang besar bagi modernisasi sektor pertanian. Pemanfaatan Internet of Things (IoT) memungkinkan berbagai aktivitas pertanian dilakukan secara otomatis berdasarkan kondisi di lapangan. "Petani sekarang harus lebih update dengan prakiraan cuaca. Ke depan semuanya akan terintegrasi dengan IoT sehingga keputusan di lahan bisa dilakukan secara real time," katanya.
Sebagai bentuk kesiapan menghadapi perkembangan tersebut, Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman tengah menyusun mata kuliah baru yang mengintegrasikan teknologi digital dengan sistem pertanian modern. Mahasiswa nantinya akan mempelajari sistem otomatisasi, seperti pengairan yang dapat bekerja berdasarkan sensor kelembapan tanah maupun kondisi cuaca. "Misalnya ketika hujan, sistem akan mendeteksi bahwa tanaman tidak perlu disiram. Semua bisa berjalan otomatis melalui teknologi," jelas Ananda.
Di sisi lain, regenerasi petani masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. Ananda mengakui mayoritas petani saat ini masih didominasi kelompok usia tua, sementara minat generasi muda terhadap dunia pertanian belum berkembang secara optimal. Meski demikian, ia melihat adanya tren positif dalam beberapa tahun terakhir dengan mulai bermunculannya komunitas anak muda yang ingin memahami proses produksi pangan.
"Periode 2023 hingga 2025 menunjukkan perkembangan yang baik. Ada komunitas seperti Paguyuban Pangan Samarinda yang anggotanya bukan berlatar belakang pertanian, tetapi memiliki semangat belajar bagaimana memproduksi pangan, termasuk menghasilkan makanan yang minim penggunaan pestisida," ungkapnya.
Ananda menilai diperlukan lebih banyak figur petani muda yang sukses agar mampu mengubah pandangan generasi muda terhadap dunia pertanian. Menurutnya, masa depan sektor ini berada di persimpangan antara kemajuan teknologi dan kepedulian terhadap alam. "Ke depan trennya hanya dua, digital banget atau back to nature. Kalau anak muda bisa menggabungkan teknologi dengan pertanian, saya optimistis masa depan pertanian Indonesia akan jauh lebih baik," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....