Perbatasan Samarinda, MBG Jadi Penyangga Gizi Ratusan Siswa dari Keluarga Pekerja

  • 01 Agt 2026 07:35 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Di sudut barat Kota Samarinda, tepat di kawasan Loa Buah yang berbatasan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadirkan makna yang lebih dari sekadar makan siang. Bagi ratusan siswa SMP Negeri 28 Samarinda, program tersebut menjadi penyangga kebutuhan gizi harian ketika sebagian besar dari mereka harus menempuh perjalanan jauh, berasal dari keluarga pekerja, bahkan tinggal terpisah dari orang tua.

Sekolah yang berada di Kecamatan Sungai Kunjang itu melayani peserta didik tidak hanya dari wilayah Samarinda, tetapi juga dari kawasan perbatasan yang masuk wilayah Kutai Kartanegara. Kondisi tersebut membuat banyak siswa berangkat sejak pagi dan baru kembali ke rumah menjelang sore.

Kepala SMP Negeri 28 Samarinda, Agus, mengatakan sebelum program MBG berjalan, tidak sedikit siswa yang hanya sempat sarapan dalam porsi terbatas sebelum berangkat sekolah. Dengan jam pulang sekitar pukul 14.45 Wita, mereka harus menahan lapar cukup lama selama mengikuti proses belajar.

"Anak-anak dalam kondisi memang sudah lapar. Banyak yang hanya sempat sarapan sedikit. Ada yang berasal dari Loa Gagak, kemudian pulangnya sekitar pukul 14.45. Dengan adanya MBG ini, alhamdulillah sangat luar biasa manfaatnya," kata Agus kepada RRI.CO.ID, Sabtu 1 Agustus 2026.

Menurutnya, kondisi sosial ekonomi sebagian besar keluarga siswa turut menjadi alasan mengapa program tersebut sangat dirasakan manfaatnya. Banyak orang tua bekerja di sektor perkebunan, perusahaan, maupun pekerjaan lain di luar Samarinda sehingga anak tinggal bersama kerabat untuk melanjutkan pendidikan.

"Ada sebagian masyarakat yang menitipkan anaknya tinggal bersama keluarga di Samarinda, sementara orang tuanya bekerja di Sangatta, perusahaan sawit, dan daerah lainnya. Dengan adanya MBG mereka sangat bersyukur," ujarnya.

Sebanyak 446 siswa di SMP Negeri 28 Samarinda kini menjadi penerima manfaat MBG sejak 13 Juli 2026. Seluruh siswa memperoleh makanan bergizi yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setiap hari sekolah.

Pada awal pelaksanaan, pihak sekolah sempat khawatir distribusi makanan akan mengganggu proses belajar mengajar. Namun setelah dilakukan penyesuaian jadwal serta melibatkan guru dan pengurus OSIS dalam pengaturan distribusi, kekhawatiran tersebut tidak terbukti.

"Awalnya kami berpikir program ini akan mengganggu kegiatan belajar. Tetapi setelah semua guru dan tenaga kependidikan ikut mengatur, ditambah bantuan OSIS, alhamdulillah sampai sekarang berjalan aman dan nyaman," katanya.

Yang menarik, tingginya antusiasme siswa tercermin dari tingkat konsumsi makanan yang mencapai lebih dari 98 persen setiap hari. Menurut Agus, makanan jarang tersisa karena sebagian besar siswa memang membutuhkan asupan tambahan saat berada di sekolah.

"Kalau dihitung, makanan yang habis dimakan di atas 98 persen. Kalaupun ada yang tidak habis biasanya karena memang ada makanan yang tidak disukai atau siswa memiliki alergi tertentu," ucapnya.

Untuk siswa yang memiliki alergi terhadap telur maupun bahan makanan tertentu, pihak SPPG telah menyiapkan menu pengganti berdasarkan data yang disampaikan sekolah. Koordinasi antara sekolah dan dapur penyedia makanan, kata Agus, berlangsung cukup baik sehingga kebutuhan khusus siswa tetap dapat dipenuhi.

Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas nasional yang dijalankan secara bertahap melalui Badan Gizi Nasional dengan sasaran peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok rentan lainnya. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi sekaligus mendukung tumbuh kembang generasi muda Indonesia melalui penyediaan makanan bergizi secara rutin.

Bagi SMP Negeri 28 Samarinda, yang berada di kawasan pinggiran sekaligus melayani siswa dari wilayah perbatasan Samarinda-Kutai Kartanegara, manfaat MBG tidak hanya terlihat dari makanan yang tersaji setiap hari. Program tersebut juga menghadirkan rasa tenang bagi banyak keluarga pekerja yang selama ini harus meninggalkan anak-anak mereka demi mencari nafkah, sekaligus memastikan para siswa tetap memiliki energi untuk belajar hingga bel pulang sekolah berbunyi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....