Kisah Haru Siswa Samarinda Pertama Kali Nikmati Rendang lewat MBG
- 10 Jun 2026 13:06 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Di balik ribuan porsi makanan yang disiapkan setiap hari melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tersimpan cerita sederhana yang menyentuh hati. Bagi sebagian anak, menu rendang mungkin merupakan hidangan yang biasa tersaji di meja makan. Namun bagi seorang siswa di Kota Samarinda, rendang menjadi pengalaman yang baru pertama kali ia rasakan dalam hidupnya.
Cerita itu masih diingat betul oleh Kepala SPPG Sungai Kunjang Lok Bahu, Resty Annisa Kusnadi. Saat melakukan kunjungan evaluasi ke salah satu sekolah penerima manfaat MBG, ia bertemu langsung dengan siswa yang selama ini menjadi bagian dari program tersebut.
Awalnya, Resty ingin mengetahui sejauh mana manfaat MBG dirasakan oleh para pelajar. Ia berdialog dengan pihak sekolah, guru, hingga siswa. Dari percakapan itulah terungkap fakta yang membuatnya terdiam.
Ternyata tidak semua anak datang ke sekolah dengan kondisi perut yang terisi. Sebagian di antaranya harus menjalani aktivitas belajar dalam keadaan lapar karena keterbatasan ekonomi keluarga. Kondisi tersebut tentu berpengaruh terhadap konsentrasi dan semangat belajar di kelas.
"Saya sempat mewawancarai salah satu murid di SMP Negeri 25. Ada siswa yang untuk makan saja sulit, sehingga sering datang ke sekolah dalam kondisi perut kosong," ujar Resty kepada rri.co.id Rabu 10 Juni 2026.
Melalui Program Makan Bergizi Gratis, siswa tersebut akhirnya bisa menikmati makanan yang cukup setiap hari di sekolah. Momen yang paling membekas terjadi saat menu rendang daging disajikan kepada para penerima manfaat.
Bagi banyak orang, rendang mungkin hanya salah satu menu makan siang. Namun bagi siswa tersebut, hidangan itu menjadi sesuatu yang istimewa. Dengan wajah penuh kegembiraan, ia mengaku baru pertama kali merasakan rendang daging.
"Waktu itu menunya daging rendang. Dia sangat senang sekali dan berulang kali mengucapkan terima kasih. Seumur hidupnya baru merasakan rendang daging dari program MBG ini," katanya.
Bagi Resty, cerita tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah porsi yang diproduksi atau banyaknya sekolah yang dilayani. Ada sisi kemanusiaan yang sering kali tidak terlihat di balik angka-angka statistik.
Program MBG, menurutnya, bukan sekadar menyediakan makanan bergizi. Program ini juga menghadirkan harapan bagi anak-anak yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pangan yang layak. Makanan yang diterima setiap hari bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memberi kesempatan bagi mereka untuk belajar dengan lebih fokus dan percaya diri.
Kisah itu pula yang membuat tim SPPG terus berupaya menjaga kualitas pelayanan. Sebab setiap ompreng yang dibagikan tidak hanya berisi makanan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi yang lebih sehat dan berdaya saing di masa depan.
Di tengah berbagai capaian Program Makan Bergizi Gratis, cerita sederhana dari seorang siswa di Samarinda tersebut menjadi bukti bahwa manfaat program dapat dirasakan secara nyata hingga ke meja makan keluarga yang paling memerlukan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....