Totebag Kain Perca Jadi Peluang Usaha Penyandang Disabilitas di Samarinda

  • 04 Jun 2026 08:08 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Pelatihan keterampilan menjahit dan kerajinan tangan bagi penyandang disabilitas di Samarinda tidak hanya menghasilkan karya kreatif, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas. Melalui kolaborasi berbagai pihak, program inklusi ini diharapkan mampu melahirkan pelaku usaha baru sekaligus memperkuat peran perempuan penyandang disabilitas dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Dalam program Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro1 RRI Samarinda, Owner Roda Seni Antaka, Emelda Andayani, menyoroti pentingnya keberlanjutan program setelah peserta memiliki keterampilan. Menurutnya, tantangan terbesar bukan terletak pada proses produksi, melainkan pemasaran hasil karya yang telah dibuat peserta pelatihan.

“Yang menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua adalah sisi marketing dan penjualannya. Membuat produk sebenarnya tidak terlalu sulit, tetapi bagaimana memasarkannya agar dikenal dan dibeli masyarakat, itu tantangan yang harus kita selesaikan bersama,” ujar Emelda, dikutip Kamis 4 Juni 2026.

Penyandang Disabilitas Daksa, Roshi Wati (kanan) dan Owner Roda Seni Antaka, Emelda Andayani (kacamata), saat dialog bersama RRI. (Foto: Youtube RRI Samarinda)

Ia menjelaskan, salah satu produk yang memiliki peluang pasar cukup besar adalah tas belanja atau totebag berbahan kain perca. Produk tersebut dinilai sejalan dengan kampanye pengurangan penggunaan kantong plastik yang terus digalakkan pemerintah. Emelda mengatakan, limbah kain yang selama ini dianggap tidak bernilai justru dapat diolah menjadi produk kreatif dengan nilai ekonomi tinggi.

“Dari kain perca kita bisa membuat panel kain, kemudian dijadikan pola dan diolah menjadi totebag. Banyak sekali yang bisa dilakukan. Tinggal bagaimana kita memperkuat pemasarannya agar produk-produk ini bisa bersaing di pasaran,” ucap Emelda.

Sementara itu, Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Samarinda, Rica Rahim, menegaskan pihaknya siap membangun kerja sama dengan pemerintah daerah untuk mendukung pengembangan usaha para penyandang disabilitas. Dukungan tersebut mencakup penguatan UMKM, perizinan usaha, hingga pengelolaan produk agar dapat dipasarkan secara berkelanjutan.

“PPDI Kota Samarinda akan berupaya menjalin komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah terkait pengembangan UMKM, perizinan, serta tindak lanjut hasil karya teman-teman disabilitas. Harapannya, program ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas,” kata Rica.

Rica juga berharap peserta yang telah berhasil mengikuti pelatihan dapat menjadi inspirasi sekaligus mentor bagi penyandang disabilitas lainnya. Menurutnya, keberhasilan satu orang dapat memotivasi lebih banyak penyandang disabilitas untuk berani mengembangkan kemampuan dan memasuki dunia usaha.

Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Samarinda, Rica Rahim, saat dialog bersama RRI melalui sambungan zoom. (Foto: Youtube RRI Samarinda)

“Saya ingin ada banyak Rosi berikutnya yang lahir dari program seperti ini. Mereka nantinya bisa berbagi pengalaman dan menularkan ilmunya kepada teman-teman disabilitas lainnya sehingga kesejahteraan penyandang disabilitas di Samarinda dapat meningkat secara merata,” ujarnya.

Lebih jauh, Rica menilai program pemberdayaan ini juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan kesetaraan gender. Ia menaruh perhatian khusus pada perempuan penyandang disabilitas karena memiliki peran besar dalam keluarga dan kehidupan sosial. Menurutnya, perempuan yang memiliki keterampilan dan penghasilan akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam membangun kesejahteraan rumah tangga.

“Perempuan penyandang disabilitas memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga. Ketika mereka mampu berkarya dan menghasilkan pendapatan, maka mereka akan memiliki pondasi yang lebih kuat untuk mendukung keluarga serta meningkatkan kualitas hidupnya,” ucap Rica.

Program pelatihan inklusif yang melibatkan penyandang disabilitas di Samarinda menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Dengan dukungan pelatihan, pendampingan, dan akses pemasaran yang memadai, para peserta tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih mandiri dan sejahtera.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....