Keterampilan Kreatif Jadi Peluang Disabilitas Mandiri di Samarinda

  • 04 Jun 2026 07:31 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Program pelatihan menjahit dan keterampilan kreatif bagi penyandang disabilitas di Samarinda mendapat respons positif dari para peserta. Kesuksesan pelatihan yang digelar beberapa waktu lalu mendorong penyelenggara untuk menyiapkan program lanjutan guna memperluas kesempatan belajar dan meningkatkan kemandirian ekonomi peserta.

Owner Roda Seni Antaka, Emelda Andayani, mengatakan pelatihan inklusif tidak berhenti pada kegiatan yang telah berlangsung. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) untuk merancang program lanjutan yang lebih terarah sesuai minat dan kemampuan masing-masing peserta.

“Kami sudah berdiskusi dengan pihak terkait untuk menyiapkan pelatihan menjahit lanjutan. Nantinya peserta akan melalui proses identifikasi kemampuan sehingga materi yang diberikan benar-benar sesuai dengan potensi yang dimiliki,” ujar Emelda dalam dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro1 RRI Samarinda.

Menurut Emelda, setiap peserta memiliki bakat dan ketertarikan yang berbeda. Karena itu, pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada menjahit, tetapi juga membuka peluang belajar merajut, menyulam, hingga berbagai keterampilan handmade lainnya yang memiliki nilai ekonomi.

“Kalau peserta memiliki kemampuan atau minat di bidang menjahit, kami arahkan ke sana. Namun jika lebih tertarik pada sulam atau rajut, maka akan diberikan pelatihan yang sesuai. Saya percaya tidak ada orang yang tidak memiliki potensi,” kata Emelda, dikutip Kamis 4 Juni 2026.

Ia menegaskan, penyandang disabilitas memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan menghasilkan karya. Yang terpenting adalah bagaimana menemukan potensi tersebut, kemudian mengembangkannya menjadi kekuatan yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari.

“Yang perlu dilakukan adalah mengenali kemampuan mereka, menggali potensi yang ada, lalu menjadikannya sebagai pondasi agar mereka bisa berkembang dan berkarya seperti siapa saja,” ucap Emelda.

Lebih lanjut, Emelda mengungkapkan pihaknya berharap program pelatihan inklusif dapat berjalan secara berkelanjutan melalui kerja sama berbagai pihak, baik pemerintah daerah, organisasi penyandang disabilitas, maupun komunitas pemberdayaan masyarakat. Saat ini, rencana kolaborasi tersebut masih dalam tahap pembahasan dan penyusunan program.

Selain fokus pada pengembangan keterampilan, Emelda juga menekankan pentingnya pendekatan yang humanis dalam mendampingi peserta. Menurutnya, keberhasilan pelatihan tidak hanya ditentukan oleh materi yang diberikan, tetapi juga oleh rasa nyaman dan kepercayaan diri yang tumbuh selama proses belajar berlangsung.

“Semuanya dimulai dari niat. Saya ingin membantu peserta menemukan kemampuan terbaik dalam dirinya. Ketika kita melakukan sesuatu dengan hati dan penuh kepedulian, prosesnya akan berjalan lebih baik,” ujarnya.

Sebagai perempuan yang juga menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga dan pelaku usaha, Emelda mengaku tidak memiliki strategi khusus dalam membagi waktu. Baginya, kunci utama adalah menjalani setiap aktivitas dengan keikhlasan dan tujuan yang jelas untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

“Selama dilakukan dengan niat baik dan mengharapkan keberkahan, semuanya akan terasa lebih ringan. Baik di rumah maupun saat mendampingi pelatihan, saya berusaha memberikan yang terbaik,” katanya.

Program pelatihan inklusif di Samarinda diharapkan menjadi langkah awal yang berkelanjutan dalam membuka akses keterampilan bagi penyandang disabilitas. Dengan dukungan berbagai pihak, kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan karya kreatif, tetapi juga menciptakan peluang usaha dan meningkatkan kualitas hidup peserta secara berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....