Penyandang Disabilitas Samarinda Mandiri Hasilkan Karya
- 04 Jun 2026 07:12 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Program pelatihan menjahit dan merajut yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Samarinda mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Kegiatan yang melibatkan peserta penyandang disabilitas ini dinilai mampu menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus membuka peluang ekonomi bagi kelompok rentan agar lebih mandiri dan berdaya saing.
Ketua organisasi penyandang disabilitas sekaligus pegiat inklusi, Rica Rahim, mengaku bangga melihat antusiasme peserta yang mampu mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan baik. Menurutnya, program tersebut menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan yang sama untuk berkembang ketika diberikan kesempatan yang setara.
“Harapan saya akhirnya tercapai. Teman-teman disabilitas tidak hanya mendapatkan ilmu baru, tetapi juga mampu menunjukkan bahwa mereka bisa mengikuti pelatihan dan menghasilkan karya yang bernilai,” ujar Rica dalam Program Ruang Disabilitas dan Inklusi di Pro1 RRI Samarinda.
Rica menjelaskan, keterlibatan penyandang disabilitas dalam program pelatihan bermula dari komunikasi dengan pemerintah daerah agar setiap kegiatan pemberdayaan turut melibatkan kelompok disabilitas. Menurutnya, prinsip inklusi harus diwujudkan secara nyata melalui keterlibatan aktif dalam berbagai program pembangunan.
“Saya selalu menyampaikan bahwa ketika pemerintah memiliki program pelatihan, penyandang disabilitas juga harus dilibatkan. Isu inklusi sudah lama digaungkan dan harus diwujudkan dalam bentuk kesempatan yang nyata,” kata Rica, dikutip Kamis 4 Juni 2026.
Salah satu peserta yang mendapat perhatian khusus adalah Rosiwati, penyandang disabilitas daksa yang sempat merasa ragu untuk mengikuti pelatihan menjahit karena keterbatasan fisik yang dimilikinya. Namun, Rica terus memberikan motivasi agar Rosiwati berani mencoba dan tidak menyerah sebelum membuktikan kemampuannya.
“Tidak ada yang mustahil. Kalau tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu kemampuan yang sebenarnya kita miliki,” ucap Rica saat menceritakan upayanya meyakinkan Rosiwati untuk mengikuti pelatihan tersebut.
Keputusan untuk ikut pelatihan akhirnya membuahkan hasil positif. Selama empat hari pelatihan, Rosiwati mampu mengikuti arahan mentor, mempelajari teknik menjahit, hingga menghasilkan karya berupa tas dan produk kerajinan lainnya. Keberhasilan tersebut menjadi inspirasi bagi peserta lain bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya.
Rica mengungkapkan, dirinya terus memantau perkembangan peserta selama kegiatan berlangsung. Ia bahkan menerima laporan dari penyelenggara bahwa Rosiwati mampu menyimak materi dengan baik dan mengikuti seluruh proses pelatihan secara maksimal. “Saya mendapat kabar bahwa Mbak Rosi sangat serius mengikuti pelatihan. Itu membuat saya bangga karena ternyata sesuatu yang awalnya dianggap sulit bisa menjadi karya yang luar biasa,” ujar Rica.
Menurutnya, tujuan utama dari program pemberdayaan seperti ini bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga membangun mental dan keberanian penyandang disabilitas untuk tampil di tengah masyarakat. Kepercayaan diri menjadi modal utama agar mereka dapat berkembang dan memanfaatkan berbagai peluang yang tersedia.
“Target saya ke depan adalah tidak ada lagi penyandang disabilitas yang tertinggal. Semua harus maju dan percaya diri. Karena tanpa kepercayaan diri, kita akan sulit berkembang dan meraih kesuksesan,” katanya.
Melalui pelatihan inklusif yang terus dikembangkan, diharapkan semakin banyak penyandang disabilitas di Samarinda dan Kalimantan Timur yang mampu meningkatkan keterampilan, memperluas jaringan, serta membangun kemandirian ekonomi. Semangat kesetaraan yang diusung program ini menjadi langkah nyata menuju masyarakat yang lebih inklusif dan berkeadilan bagi semua.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....