Pelatihan Inklusi di Samarinda Buka Peluang Usaha Penyandang Disabilitas
- 04 Jun 2026 07:30 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Semangat kesetaraan dan pemberdayaan kembali digaungkan melalui program pelatihan inklusi yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Kalimantan Timur bersama Kota Samarinda. Mengusung tema “Merangkai Karya Membuka Peluang”, kegiatan yang berlangsung pada Mei 2026 lalu, menghadirkan pelatihan menjahit dan merajut bagi ibu kepala keluarga serta peserta dari kalangan penyandang disabilitas.
Pelatihan tersebut tidak hanya berfokus pada penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga bertujuan membangun kepercayaan diri, memperluas jejaring sosial, serta membuka peluang usaha bagi para peserta. Program ini menjadi bukti bahwa kesempatan yang setara mampu melahirkan karya dan kemandirian bagi siapa saja, tanpa memandang kondisi fisik maupun latar belakang sosial.
Owner Roda Seni Antaka, Emelda Andayani, menjelaskan pelatihan dirancang untuk mendorong peserta berani mencoba hal baru melalui proses kreatif yang sederhana. “Pelatihan ini bukan hanya tentang membuat produk, tetapi juga tentang proses belajar. Peserta kami dorong untuk berani mencoba dan menemukan peluang baru melalui keterampilan yang dimiliki,” ujar Emelda saat menjadi narasumber dalam Program Ruang Disabilitas dan Inklusi di Pro1 RRI Samarinda.
Menurut Emelda, materi pelatihan meliputi pemanfaatan kain perca, sulam tangan, hingga merajut. Dari keterampilan dasar tersebut, peserta diajak memahami bahwa sesuatu yang sederhana dapat diolah menjadi karya bernilai ekonomi. “Kami ingin peserta menyadari bahwa dari potongan kain kecil sekalipun bisa dirangkai menjadi produk yang memiliki nilai jual dan manfaat,” kata Emelda, dikutip Kamis 4 Juni 2026.
Roda Seni Antaka sendiri telah berdiri sejak 2019 dan bergerak di bidang pelatihan serta produk fashion berbasis keterampilan tangan atau handmade. Emelda mengaku mendirikan usaha tersebut karena kecintaannya terhadap dunia fashion dan keinginannya melestarikan kerajinan tangan di Samarinda.

“Saya ingin produk handmade tetap hidup dan berkembang. Hasil karya tangan memiliki keunikan tersendiri dan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan produk yang sepenuhnya dibuat mesin,” ucap Emelda.
Salah satu peserta pelatihan, Roshi Wati, mengaku memperoleh pengalaman berharga selama mengikuti kegiatan tersebut. Penyandang disabilitas daksa itu mengatakan sebelumnya tidak memiliki kemampuan menjahit, bahkan baru pertama kali menggunakan mesin jahit saat pelatihan berlangsung. Namun, dalam waktu empat hari, ia berhasil membuat tas dan mempelajari teknik sulaman menggunakan mesin jahit.
“Awalnya saya merasa pesimis karena memiliki keterbatasan fisik. Saya berpikir tidak mungkin bisa menjahit. Tetapi setelah dibimbing, ternyata saya mampu membuat tas dan menghasilkan karya sendiri,” ujar Roshi Wati.
Ia menambahkan, pengalaman tersebut telah menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus membuka peluang usaha yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Lebih lanjut, Rosiwati mengapresiasi suasana pelatihan yang inklusif dan bebas diskriminasi. Menurutnya, seluruh peserta mendapatkan perlakuan yang sama dan didampingi dengan sabar oleh para mentor.
“Tidak ada perbedaan perlakuan. Kami belajar bersama, saling mendukung, dan jika mengalami kesulitan langsung dibantu. Itu membuat saya semakin percaya diri untuk terus belajar,” katanya.
Program pelatihan inklusi ini menjadi contoh nyata, akses yang setara dapat menciptakan kesempatan baru bagi penyandang disabilitas untuk berkembang secara ekonomi maupun sosial. Melalui keterampilan menjahit, merajut, dan kerajinan tangan lainnya, peserta tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga harapan untuk membangun masa depan yang lebih mandiri. Semangat “Merangkai Karya Membuka Peluang” pun diharapkan terus menginspirasi lahirnya program-program inklusif di Kalimantan Timur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....