Kaltim Hadapi Ancaman Kehilangan Kekayaan Genetik Tanaman Lokal
- 08 Mei 2026 06:06 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Kekayaan plasma nutfah lokal Kalimantan Timur dinilai menghadapi ancaman serius apabila tidak segera dilindungi dan didokumentasikan secara resmi. Di tengah berkembangnya kebutuhan pangan modern dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), pemerintah bersama akademisi dan pelaku pertanian menilai upaya menjaga warisan genetik tanaman lokal menjadi langkah penting untuk masa depan ketahanan pangan daerah.
Persoalan tersebut mengemuka dalam talkshow bertema “Menjamin Masa Depan, Investasi Pertanian untuk Generasi Mendatang” yang digelar Pro 1 RRI Samarinda di Kebun RM Garden, Batu Besaung, Sempaja Ujung, Kamis 7 Mei 2026.
Diskusi tersebut menghadirkan Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kalimantan Timur Fahmi Himawan, Ketua LPPM Universitas Mulawarman Widi Sunaryo, Ketua KTNA Kaltim Parasian Marpaung, serta Rahman selaku Pengawas Benih Tanaman Ahli Madya UPTD Pengawasan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kaltim.
Dalam dialog itu, para narasumber menilai plasma nutfah lokal atau kekayaan genetik tanaman daerah rentan diklaim pihak luar apabila tidak memiliki perlindungan hukum dan pencatatan yang jelas.
Kepala DPTPH Kaltim Fahmi Himawan menegaskan plasma nutfah merupakan aset daerah yang harus dijaga keberlangsungannya. Menurutnya, pemerintah kini berupaya memperkuat dokumentasi dan pengarsipan seluruh potensi plasma nutfah lokal sesuai regulasi kementerian terkait.
“Plasma nutfah ini adalah potensi dan aset kita yang harus kita pertahankan dan lindungi. Bukan hanya sekadar ada di lapangan, tetapi bagaimana kita bisa mendokumentasikan, mengarsipkannya, dan memprosesnya sesuai regulasi yang berlaku dari kementerian,” kata Fahmi.
Ia menjelaskan, pencatatan resmi menjadi langkah penting agar plasma nutfah lokal memiliki pengakuan legal sekaligus perlindungan terhadap aspek genetika tanaman daerah.
Selain persoalan perlindungan plasma nutfah, talkshow tersebut juga membahas tantangan ketahanan pangan di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat. Fahmi menilai selama ini isu pangan terlalu berfokus pada swasembada beras, padahal kebutuhan pangan masyarakat modern tidak hanya bergantung pada karbohidrat.
“Kita menghadapi generasi Gen Z yang juga peduli terhadap kesehatan. Jadi kita tetap mendukung penguatan padi dan beras, tetapi jangan lupa kita juga membutuhkan serat dan vitamin dari hortikultura, sayur-sayuran, dan buah-buahan,” ujarnya.
Menurutnya, plasma nutfah lokal hortikultura memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan pangan sehat dan bergizi, termasuk untuk menopang kebutuhan masyarakat di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dalam forum tersebut, pemerintah juga menyoroti keterbatasan penguatan sarana pendukung pertanian, seperti laboratorium, Balai Benih Induk (BBI) Hortikultura, hingga lembaga pengawasan sertifikasi benih. Pengembangan fasilitas tersebut disebut masih membutuhkan waktu karena adanya penyesuaian prioritas anggaran pemerintah.
Melalui kegiatan itu, seluruh pemangku kepentingan pertanian diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam menjaga plasma nutfah lokal agar tetap lestari dan mampu mendukung ketahanan pangan berkelanjutan di Kalimantan Timur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....