Ekonomi Kreatif Kaltim Tumbuh, Kontribusi Capai Rp30 Triliun
- 01 Apr 2026 14:24 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Sektor ekonomi kreatif di Kalimantan Timur terus menunjukkan tren pertumbuhan positif dan mulai menjadi salah satu pilar penting dalam transformasi ekonomi daerah. Kontribusinya bahkan telah mencapai sekitar Rp30 triliun atau 5,6 persen dari total perputaran ekonomi di Kaltim.
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bidang Sumber Daya Alam, Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat, Arief Murdiyatno, menyampaikan bahwa capaian tersebut menjadi indikator kuat bahwa sektor ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan ke depan.
“Angka ini menunjukkan peluangnya masih sangat besar untuk dikembangkan,” ujarnya di Samarinda, Selasa 31 Maret 2026.
Ia menjelaskan, saat ini subsektor ekonomi kreatif di Kaltim masih didominasi oleh kuliner, kriya, dan fashion. Salah satu produk unggulan yang dinilai memiliki prospek cerah adalah tenun Samarinda yang masuk dalam subsektor fashion dan memiliki nilai budaya sekaligus ekonomi.
Menurutnya, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga membuka peluang pasar baru yang sangat potensial bagi produk-produk ekonomi kreatif lokal, terutama yang memiliki kekhasan daerah.
“Tenun ini peluangnya sangat terbuka, apalagi dengan adanya IKN yang bisa jadi pasar baru,” katanya.
Meski demikian, Arief mengakui bahwa kontribusi ekonomi kreatif Kaltim di pasar ekspor masih belum optimal. Saat ini, ekspor daerah masih didominasi komoditas seperti sarang burung walet dan produk turunan kayu, sementara produk ekonomi kreatif belum banyak menembus pasar internasional.
“Ke depan kita harapkan produk ekraf juga bisa ekspor langsung,” ujarnya.
Untuk mendorong hal tersebut, pemerintah daerah terus memperkuat sistem pelayanan ekspor melalui mekanisme satu pintu di Pelabuhan Palaran. Langkah ini diharapkan dapat mempermudah pelaku usaha dalam mengakses pasar global secara lebih efisien dan terintegrasi.
Selain itu, kolaborasi lintas sektor juga terus ditingkatkan, termasuk dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), khususnya dalam mendukung akses pembiayaan serta meningkatkan literasi keuangan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Kendala utama biasanya di permodalan. Maka kita dorong pendampingan, termasuk edukasi perbankan,” katanya.
Arief menambahkan, penguatan sektor ekonomi kreatif juga harus diiringi dengan peningkatan kapasitas produksi dan strategi segmentasi pasar yang tepat. Produk diharapkan mampu menjangkau berbagai lapisan konsumen, baik segmen premium maupun pasar yang lebih luas.
“Dengan begitu, pasar bisa lebih luas dan pelaku usaha bisa berkembang,” ucapnya.
Melalui berbagai upaya tersebut, sektor ekonomi kreatif diharapkan tidak hanya menjadi penopang ekonomi daerah, tetapi juga mampu meningkatkan daya saing Kaltim di tingkat nasional hingga internasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....