Trade Expo Indonesia 2026 Jadi Momentum UMKM Kaltim Tembus Pasar Internasional

  • 16 Agt 2026 10:18 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 menjadi salah satu momentum penting bagi pelaku usaha di Kalimantan Timur untuk memperluas jaringan bisnis dan membuka peluang menembus pasar internasional. Ajang perdagangan internasional tersebut akan berlangsung pada tanggal 14 hingga 18 Oktober 2026 di ICE BSD, Tangerang Selatan.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Ekonomi Digital Pro 1 RRI Samarinda bersama Penata Layanan Operasional Disperindagkop Kaltim, Arif Hamka, dan Analis Perdagangan Disperindagkop Kaltim, Octab Alfiansyah. Dalam dialog tersebut, TEI dinilai bukan sekadar pameran untuk menampilkan produk, tetapi menjadi sarana mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon buyer dari berbagai negara.

Arif Hamka menjelaskan, TEI merupakan salah satu pameran internasional terbesar di Indonesia yang berada di bawah Kementerian Perdagangan. Kegiatan tersebut juga melibatkan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri yang membawa calon buyer untuk mencari berbagai produk dan komoditas asal Indonesia.

Menurut Arif, TEI memberikan peluang bagi pelaku UMKM yang ingin memperluas pasar, terutama bagi mereka yang belum mengetahui jalur untuk masuk ke pasar luar negeri. Kehadiran calon buyer secara langsung di Indonesia membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun hubungan bisnis.

“TEI ini bukan hanya sekadar display produk, tetapi juga ada business matching dan pelatihan. Bagi pelaku usaha yang ingin ke luar negeri tetapi belum mengetahui jalurnya, di sini banyak calon buyer yang datang untuk mencari produk dan partner bisnis dari Indonesia,” ujar Arif Hamka.

Sementara itu, Octab Alfiansyah mengatakan peluang yang diperoleh pelaku usaha melalui TEI cukup besar karena adanya agenda business matching yang mempertemukan buyer dengan pelaku usaha secara langsung. Selain memperkenalkan produk, pelaku usaha juga dapat membangun komunikasi dan memperoleh kontak calon mitra untuk ditindaklanjuti setelah pameran.

Menurut Octab, proses transaksi tidak selalu langsung terjadi saat pameran. Pelaku usaha perlu melakukan komunikasi lanjutan untuk memenuhi berbagai persyaratan yang diminta calon buyer, termasuk memperbaiki kemasan maupun melengkapi sertifikasi apabila masih terdapat kekurangan.

“Yang perlu dipersiapkan sejak awal adalah kualitas, kuantitas dan kontinuitas produk. Selain itu, sertifikasi juga perlu dipersiapkan dari jauh-jauh hari, seperti sertifikasi halal dan persyaratan internasional lainnya, sehingga pelaku usaha lebih siap mengikuti kegiatan pameran,” kata Octab Alfiansyah.

Kesiapan produk menjadi salah satu faktor penting karena buyer internasional tidak hanya melihat tampilan produk. Kapasitas produksi, harga, legalitas, kualitas serta kemampuan memenuhi permintaan secara berkelanjutan juga menjadi pertimbangan. Karena itu, pelaku UMKM Kaltim didorong mengikuti pelatihan ekspor dan mempersiapkan diri sejak jauh hari sebelum TEI berlangsung.

Kaltim sendiri memiliki sejumlah produk yang berpotensi dikembangkan untuk pasar ekspor, antara lain produk perikanan seperti ikan segar, belut, udang dan kepiting, serta komoditas perkebunan seperti kakao fermentasi. Produk kehutanan dan turunannya, termasuk furniture dan produk kayu, juga memiliki peluang, sementara produk khas seperti kayu gaharu sempat menarik perhatian buyer karena karakteristiknya yang langka.

Untuk mendukung keikutsertaan Kaltim, Disperindagkop Kaltim akan tergabung dalam Paviliun Kaltim bersama instansi perdagangan kabupaten/kota dan sejumlah pihak lainnya. Pada TEI 2026, Disperindagkop Kaltim akan memfasilitasi tiga pelaku usaha untuk mengikuti ajang tersebut. Selain kesiapan produk dan kemampuan berkomunikasi, pemanfaatan teknologi digital juga dinilai penting untuk memperkenalkan profil usaha melalui website, marketplace, maupun teknologi seperti kecerdasan buatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....