Aktivitas Nelayan Jadi Ancaman Keberlangsungan Pesut Mahakam

  • 22 Feb 2026 15:49 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Aktivitas nelayan masih menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keberlangsungan Pesut Mahakam di Kalimantan Timur. Hal ini disampaikan Arief Rahmat, Anggota Komunitas Save Pesut Mahakam, saat berbincang mengenai kondisi terbaru mamalia air tawar tersebut dalam obrolan SPADA, Sabtu 22 Februari 2026.

Berdasarkan data terbaru yang ia kutip dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Yayasan Konservasi RASI, yayasan yang fokus pada pelestarian mamalia air tawar di Indonesia, khususnya Pesut Mahakam, jumlah populasi pada 2024 tercatat sekitar 60 ekor.

“Data 2024 itu sekitar 60 ekor saja sekarang. Jadi awalnya yang saya sempat bentuk grup itu, saya persemahkan 2010, itu sekitar 99 ekor. Dan bayangkan dari 16 tahun tinggal 60 ekor saja,” ujarnya.

Meski demikian, ada kabar baik pada 2025. Data terakhir menunjukkan adanya penambahan sekitar enam anak pesut, sehingga total populasi menjadi sekitar 66 ekor.

“Tapi walaupun 66 ekor itu, konservasi tetap harus dilanjutkan walaupun bertambah,” katanya.

Kementerian Lingkungan Hidup bersama Yayasan Konservasi RASI terus mengupayakan langkah penyelamatan. Pemerintah telah menetapkan sejumlah desa konservasi seperti Desa Pela, Muhuran, dan Sabintulung guna melindungi habitat pesut. Upaya yang dilakukan mencakup pembatasan lalu lintas sungai, penegakan hukum terhadap penggunaan alat tangkap ilegal, serta patroli bersama di wilayah perairan.

Arief mengakui langkah tersebut patut disyukuri meski dinilai agak terlambat. Selama ini, Komunitas Save Pesut Mahakam aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Mereka mengajak warga untuk tidak membuang sampah sembarangan dan tidak memancing di wilayah habitat pesut.

“Kalau memancing sembarangan itu bisa tersangkut pesutnya dengan pancingan tersebut. Dan itu juga salah satu faktor pesut mati dan terancam punah,” ucapnya.

Menurutnya, faktor terbesar penyebab kematian pesut adalah aktivitas nelayan yang menggunakan rengge atau jaring. Pesut yang sedang mencari makan kerap tersangkut jaring tersebut.

“Karena pesut itu kan cari ikan, cari makan, kemudian tersangkut sama jaring atau rengge. Dan itu juga menyebabkan pesut lemas hingga mati,” ujarnya.

Komunitas Save Pesut Mahakam telah melakukan edukasi lapangan di dua kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara, yakni Kecamatan Kota Bangun dan Kecamatan Muara Kaman. Dua wilayah tersebut dipilih karena menjadi lokasi yang paling sering terlihat kemunculan Pesut Mahakam dan dapat dikatakan sebagai habitat yang masih bisa disaksikan masyarakat.

“Dua kecamatan itu yang Pesut Mahakam-nya lebih sering terlihat dan bisa dibilang habitat Pesut Mahakam saat ini yang bisa dilihat oleh masyarakat,” katanya.

Komunitas Save Pesut Mahakam merupakan kelompok pecinta lingkungan yang terbentuk sejak 2010. Komunitas ini berawal dari kekhawatiran setelah melihat pemberitaan di televisi tentang Pesut Mahakam yang terancam punah di Kalimantan Timur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....