Mudik dengan Bus Jadi Pilihan Nyaman menuju Palangkaraya
- 13 Mar 2026 14:00 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Di ruang tunggu Terminal Tipe A Samarinda Seberang, seorang perempuan tampak duduk tenang sambil sesekali berbincang dengan anaknya. Di tangannya tergenggam tiket perjalanan—selembar kertas kecil yang akan membawanya pulang ke kampung halaman.
Perempuan itu bernama Retno Faizah Wardana, 35 tahun. Tahun ini ia kembali memilih perjalanan darat untuk pulang ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menemui keluarga yang sudah lama menunggu.
Retno mengaku sudah merencanakan perjalanan mudiknya sejak awal Ramadan. Namun ia memilih berangkat pada sepuluh hari terakhir bulan puasa, saat suasana mudik mulai terasa di terminal.
“Sudah direncanakan dari awal puasa. Besok berangkat jam 11.30,” ujarnya.
Perjalanan yang ditempuh Retno tidak langsung menuju Palangkaraya. Ia harus lebih dulu menuju Banjarmasin sebelum melanjutkan perjalanan ke kota tujuan.
Meski cukup panjang, perjalanan itu bukan hal baru baginya. Ini merupakan kali kedua Retno menempuh perjalanan mudik dengan rute yang sama.
Bagi Retno, menggunakan bus menjadi pilihan yang paling nyaman dibandingkan moda transportasi lainnya.
“Soalnya kalau naik bus itu enggak desek-desekan. Tempat duduknya sudah jelas, jadi lebih nyaman,” ucapnya.
Harga tiket perjalanan menuju Palangkaraya yang ia beli sekitar Rp300 ribu, dengan rute transit di Banjarmasin sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung halaman.
Retno mengatakan, ia merantau di Samarinda sementara kedua orang tuanya masih tinggal di Palangkaraya. Karena itu, momen Lebaran selalu menjadi waktu yang paling dinantikan untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga.
Di tengah aktivitas calon penumpang yang hilir mudik di terminal, Retno tampak menikmati suasana terminal. Ia menilai kondisi terminal saat ini cukup nyaman bagi penumpang.
“Cukup bersih dan rapi terminalnya. Enak juga untuk menunggu,” katanya.
Seperti banyak pemudik lainnya, harapan Retno sebenarnya sederhana. Ia hanya ingin perjalanan yang aman hingga tiba di rumah.
Di balik ramainya arus mudik menjelang Idulfitri, kisah Retno menjadi gambaran sederhana tentang makna perjalanan pulang. Bukan sekadar berpindah kota, tetapi perjalanan menuju orang-orang yang paling dirindukan di kampung halaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....