Waspada Penyebab Penyakit Jantung Kroner sejak Dini

  • 14 Sep 2026 12:18 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID,Natuna - Penyakit jantung koroner atau “coronary artery disease” adalah kondisi ketika pembuluh darah arteri koroner mengalami penyempitan atau penyumbatan. Penyempitan bisa terjadi karena penumpukan plak (timbunan lemak, kolesterol dan zat lain misalnya kapur) dalam dinding arteri.

Jika plak terus menumpuk, aliran darah bisa terhambat secara signifikan atau bahkan tersumbat sepenuhnya. Ada beberapa penyebab penyakit kroner yang isa kita ketahui menurut dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP pada akun Yutube @DrErtaSpJP.

Kurang aktivitas fisik.

Jarang olahraga, terlalu banyak duduk, aktivitas harian rendah, kebugaran jantung parunya rendah, tidak pernah latihan aerobik, dan tidak pernah latihan kekuatan, semuanya itu punya peranan. Tubuh manusia dirancang untuk bergerak, bukan untuk duduk 8 jam lalu pindah duduk di mobil lalu duduk lagi di sofa sambil berkata, "Aduh, saya capek banget hari ini."

Kurang gerak membuat berat badan mudah naik, gula darah sulit terkontrol, tekanan darah naik, gilgiserida naik, dan HDL-nya turun. Jalan kaki, naik tangga, bersepeda, berenang, atau latihan ringan tidak hanya membakar kalori melainkan cara untuk memberitahu tubuh kita masih dipakai.

Kurang tidur dan slip apnea.

Kurang tidur, sering begadang, kualitas tidur buruk, mendengkur berat, nafasnya berhenti saat tidur, dan mengantuk berlebihan di siang hari bisa meningkatkan risiko. Slip apnea itu sering terjadi pada orang dengan obesitas atau lingkar leher yang besar, saat nafasnya berulang kali terganggu saat tidur, kadar oksigennya akan turun, tekanan darah akan melonjak, sistem stres tubuh aktif, dan jantung akan bekerja lebih berat.

Jadi, tidur itu bukanlah kemewahan melainkan perawatan harian tubuh, jika tubuh terus dipaksa lembur, maka pembuluh darah juga ikut menanggung akibatnya.

Stres kronis dan kesehatan mental yang tidak terkelola.

Stres berkepanjangan, burn out, depresi, gangguan cemas, emosi intens yang berulang, kesepian sosial, dan pola pelampiasan yang buruk bisa memperburuk resiko jantung. Stres bisa meningkatkan hormon kortisol dan adrenalin, meningkatkan tekanan darah, gula darah, peradangan, dan membuat orang lebih mudah merokok, makan berlebihan, atau malas bergerak.

Jadi masalahnya bukan sekedar banyak pikiran, namun ketika tubuh hidup terus dalam mode darurat padahal daruratnya itu terjadi setiap hari seperti pekerjaan, cicilan, target, notifikasi, dan hidup yang rasanya tidak pernah selesai loading.

Riwayat keluarga dan faktor genetik.

Kalau seorang ayah atau saudara laki-laki terkena penyakit jantung koroner di usia kurang dari 55 tahun atau ibu maupun saudara perempuan terkena di usia kurang dari 65 tahun, maka resiko mengalami penyakit jantung koroner akan lebih tinggi. Riwayat keluarga seperti kolesterol sangat tinggi, serangan jantung usia muda, atau kematian jantung yang mendadak juga harus diperhatikan.

Faktor genetik seperti familial hiperkolesterolemia atau lipoprotein A yang tinggi bisa membuat seseorang punya risiko besar meskipun tubuhnya tidak tampak gemuk. Genetik itu seperti kartu di awal permainan, kita tidak bisa memilih kartu yang dibagikan, tapi kita bisa memilih cara bermainnya.

Penyakit penyerta yang menyebabkan peradangan kronis.

Nah, ini termasuk penyakit autoimun seperti lupus, rematoid artritis, psoriasis, dan penyakit radang kronis lainnya. Di Indonesia, penyakit infeksi kronis juga perlu diwaspadai misalnya, TBC yang tidak terobati dengan baik.

Infeksi kronis itu dapat membuat tubuh berada dalam kondisi peradangan terus-menerus, dan peradangan kronis ini dapat ikut merusak pemuluh darah, termasuk juga masalah di gigi dan mulut seperti gigi berlubang, radang gusi, dan perodontitis. Dalam pemeriksaan kesehatan gratis, masalah gigi itu termasuk salah satu temuan terbesar, nah ini penting sekali karena banyak orang Indonesia yang belum sadar bahwa gigi rusak bukan hanya masalah bau mulut atau susah makan.

Gigi yang rusak dan infeksi kronis di mulut bisa jadi sumber peradangan, dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah berhubungan dengan penyakit jantung coroner, dan pada kondisi tertentu infeksi dari gigi juga bisa berbahaya bagi katup jantung. Jadi kalau giginya sudah banyak yang rusak jangan hanya ditutup dengan senyum, periksa dan obati.

Obat-obatan tertentu dan zat terlarang.

Nah, ini perlu diketahui sejak muda, terutama oleh anak-anak remaja. Alkohol berlebihan, narkoba stimulan seperti kokin, amfetamin, metamfetamin, dan penyalahgunaan zat lain itu dapat meningkatkan risiko gangguan jantung.

Zat stimulan ini bisa membuat pemuluh darah koron menyempit, tekanan darah melonjak, nyut jantung kacau, bahkan memicu serangan jantung akut. Penggunaan steroid anabolik yang banyak digunakan oleh binaragawan untuk membentuk tubuh secara tidak aman itu juga bisa merusak profil kolesterol dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Banyak sekali korbannya seperti binaragawan yang sudah meninggal di usia muda gara-gara menggunakan steroid anabolik. Jadi pilihan buruk di usia 20-an itu bisa membawa konsekuensi panjang sampai usia 40 atau 50-an, tubuh bisa memaafkan banyak hal, tapi bukan berarti semuanya itu gratis tanpa ketagihan.

Lingkungan yang penuh polusi.

Nah, ini seringkiali diremehkan, paparan PM 2.5, asap kendaraan, asap pembakaran sampah, asap industri, dan udara yang kotor dapat memicu peradangan, stres oksidatif, gangguan fungsi, pembuluh darah, dan meningkatkan risiko munculnya penyakit jantung. Ada orang inginnya sehat lalu olahraga lari atau bersepeda di pinggir jalan besar saat macet., niatnya bagus tapi paru-parunya sedang sarapan asap knalpot.

Olahraga itu baik, tapi tempatnya juga harus dipikirkan, pilih waktu dan lokasi yang lebih bersih seperti taman, area yang tidak padat kendaraan, atau olahraga dalam ruangan saat kualitas udara sedang buruk. Jangan sampai niat ingin sehat malah dibayar dengan paparan polusi tinggi.

Usia.

Usia adalah faktor resiko yang tidak bisa kita rubah, semua manusia kalau diberi umur panjang pasti akan bertambah tua., pertanyaannya bukan apakah usia meningkatkan risiko penyakit jantung koroner? karena itu sudah pasti jawabannya iya. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah di usia berapakah Anda mulai terkena penyakit jantung koroner?

Di negara dengan sistem deteksi dan pencegahan yang baik, penyakit jantung koroner itu seringki muncul di usia lebih lanjut. Misalnya di Jepang usia 60 70 tahun. Tapi di Indonesia banyak pasien dengan usia produktif di usia 40-an sudah terkena serangan jantung.

Nah, ini anomali yang harus kita perhatikan, bukan karena usia 40-an tiba-tiba jadi tua, tapi karena faktor resiko yang tidak terdeteksi lebih dini. Jadi, pesan pentingnya bahwa kita tidak bisa menghentikan usia, tapi kita bisa berusaha agar pembuluh darah tidak menua lebih cepat daripada umur kita.

Cek tekanan darahnya, cek gula darahnya, cek HBA1C bila perlu, cek profil kolesterol, ukur lingkar perutnya, rawat gigi dan gusi, berhenti merokok, jauhi narkoba, bergerak rutin, tidurnya cukup, pilih lokasi olahraga yang tidak penuh polusi, dan perbaiki pola makannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....