Bahayakan TBC pada Orang Dewasa terhadap Anak

  • 10 Agt 2026 05:37 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID,Natuna - Ada kasus seorang anak meninggal karena radang otak, ternyata sumbernya TBC dari orang dewasa di sekitarnya. Bayangkan seorang anak yang awalnya terlihat hanya demam, beberapa hari kemudian anak itu menjadi lemas, muntah, sulit dibangunkan, lalu mengalami kejang. Setelah diperiksa ternyata terjadi peradangan pada selaput otaknya akibat tuberkulosis atau TBC yang membuat keluarganya semakin terpukul.

Sumber penularan diduga berasal dari orang dewasa yang sering berada di dekat anak tersebut, bisa anggota keluarga, pengasuh, sopir, tetangga, atau orang lain yang setiap hari berinteraksi dengannya. Ini hanya sebuah ilustrasi medis, dalam kejadian nyata kita tidak boleh sembarangan menuduh seseorang sebagai sumber penularan tanpa investigasi kontak dan pemeriksaan yang benar, namun, skenario seperti ini memang bisa terjadi.

Lalu apa dampak penyakit TBC terhadap anak? Berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP akun Yutube @DrErtaSpJP :

TBC bukan hanya penyakit paru-paru yang tidak hanya menyerang orang tua, dan bukan hanya ditandai batuk berdarah. TBC juga dapat menyerang anak-anak, bahkan pada anak kecil, kuman TBC dapat menyebar dari paru-paru menuju selaput otak dan menyebabkan meningitis tuberkulosis atau yang sering disebut TBC otak.

WHO menjelaskan bahwa anak kecil memiliki resiko lebih tinggi mengalami bentuk TBC yang berat, dan salah satu yang paling menghancurkan adalah meningitis tuberkulosis. Vaksin BCG membantu melindungi anak dari bentuk TBC berat seperti meningitis dan TBC yang menyebar tetapi perlindungannya tidak 100% dan tidak membuat seseorang kebal total terhadap semua penularan TBC.

Nah, bagaimana seorang anak bisa tertular? TBC menular melalui udara, ketika seseorang dengan TBC aktif pada paru atau tenggorokan, batuk, berbicara, bernyanyi, atau bersin, kuman dapat masuk ke udara, orang yang berada di dekatnya kemudian dapat menghirup kuman tersebut. Jadi, TBC bukan terutama menular karena bersalaman, bukan karena duduk di kursi yang sama, bukan karena berbagi sendok sekali, dan bukan pula karena melihat pasien TBC dari kejauhan lalu langsung tertular.

Risikonya meningkat ketika kontak berlangsung lama, sering berada dalam ruangan tertutup, ventilasinya buruk, dan orang yang sakit belum mendapatkan pengobatan yang efektif. Kuman TBC bahkan dapat bertahan di udara selama beberapa waktu tergantung kondisi lingkungannya. Misalnya ada seorang dewasa yang sudah batuk selama 1 bulan, tetapi dia merasa itu hanya batuk biasa yang disebabkan karena rokok, mungkin karena masuk angin, atau mungkin karena kipas angin terlalu dekat.

Orang Indonesia kadang kreatif sekali mencari penyebab batuk. kipas angin disalahkan, es batu disalahkan, hujan disalahkan, kucing yang lewat pun sebentar lagi ikut disalahkan. Pada orang dewasa, sistem kekebalan tubuh mungkin masih mampu menahan perkembangan penyakit untuk sementara, tetapi pada bayi dan anak kecil, daya tahan tubuh belum sematang orang dewasa, kuman yang masuk bisa berkembang dan menyebar lebih cepat.

Masalah berikutnya adalah gejala TBC pada anak tidak selalu khas, anak belum tentu batuk hebat maupun batuk berdarah. Gejalanya bisa berupa berat badan yang tidak naik, berat badan turun, demam yang menetap atau berulang, anak terlihat lesu, nafsu makan berkurang, aktivitas menurun, atau batuk yang tidak membaik.

Pada TBC yang sudah mengenai selaput otak, gejalanya dapat lebih berat, anak dapat mengalami sakit kepala, muntah-muntah, perubahan perilaku, mengantuk berlebihan, penurunan kesadaran, leher kaku, kejang, atau kelemahan pada anggota tubuh. Pada bayi tandanya bisa lebih samar, bayi menjadi rewel, malas menyusu, demam, ubun-ubun tampak menonjol atau kesadarannya menurun. Jika sudah muncul kejang, sulit dibangunkan, sesak, kebiruan, kelemahan tubuh, atau penurunan kesadaran, maka segera bawa ke instalasi gawat darurat.

Ketika ditemukan seseorang dengan TBC aktif, jangan hanya fokus memberikan obat kepada satu pasien tersebut, orang-orang yang tinggal satu rumah atau sering kontak dekat juga perlu dinilai. Inilah yang disebut investigasi kontak, kalau ayah didiagnosis TBC, maka ibu dan anak-anak perlu ditanyakan gejalanya dan diperiksa sesuai indikasi. Kalau pengasuh anak mengalami TBC, anak yang sering bersamanya perlu dievaluasi. Kalau seorang karyawan mengalami TBC, bukan berarti seluruh gedung harus panik. Tetapi orang yang memiliki kontak dekat dan berkepanjangan perlu mendapatkan penilaian berdasarkan tingkat paparannya.

Kementerian Kesehatan menganjurkan pencarian sumber penularan, pemeriksaan kontak serumah, pengobatan yang adekuat bagi pasien, serta pemberian terapi pencegahan tuberkulosis atau TPT kepada kelompok yang memenuhi kriteria termasuk anak yang kontak serumah dengan pasien TBC aktif.

Apa itu terapi pencegahan? Seseorang di saat sudah terinfeksi kuman TBC tetapi belum mengalami TBC aktif, kondisi ini sering disebut infeksi TBC laten atau TBC tidak aktif., orang tersebut biasanya tidak merasa sakit, tidak menunjukkan gejala, dan tidak menularkan kuman kepada orang lain. Namun, kuman masih bisa tidur di dalam tubuh., jika daya tahan tubuh melemah, kuman dapat aktif dan menyebabkan penyakit di kemudian hari.

Terapi pencegahan diberikan kepada orang yang memenuhi penilaian tertentu untuk menurunkan risiko berkembang menjadi TBC aktif, jadi, jangan salah paham. Terapi pencegahan bukan berarti semua orang satu rumah langsung diberi obat yang sama tanpa pemeriksaan. Dokter atau tenaga kesehatan perlu menilai usia, gejala, riwayat kontak, kondisi kesehatan, kemungkinan TBC aktif, serta pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.

Apa yang bisa dilakukan mulai hari ini? Kalau ada anggota keluarga yang batuk lama, demam berkepanjangan, berkeringat pada malam hari, berat badan turun, nafsu makan menurun, atau pernah kontak erat dengan pasien TBC, ajak periksa.

Untuk mendiagnosis TBC, kita tetap memerlukan tenaga kesehatan dan pemeriksaan yang tepat dan yang paling penting lindungi anak-anak dengan menemukan orang dewasa yang sakit lebih cepat. Seringki anak dengan TBC tidak menularkan kepada orang dewasa, justru anak tertular dari orang dewasa di sekitarnya yang belum terdiagnosis atau belum diobati dengan efek.

Jadi ketika seorang anak didiagnosis TBC, pertanyaannya bukan hanya bagaimana mengobati anak ini, kita juga harus bertanya dari siapa kemungkinan anak ini tertular dan siapa lagi yang sudah terpakar. TBC dapat disembuhkan tetapi harus ditemukan lebih cepat, diobati dengan benar dan dituntaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....