6 Penyebab Penyakit Jantung Koroner pada Remaja
- 10 Agt 2026 07:59 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID,Natuna - Penyakit jantung koroner bukan penyakit yang datang secara tiba-tiba, serangan jantung memang bisa mendadak tapi proses penyumbatannya seringkiali dicicil bertahun-tahun. Penyakit jantung dan pembuluh darah masih jadi pembunuh nomor satu di dunia dan di Indonesia.
Penyakit jantung termasuk salah satu penyakit dengan beban biaya terbesar dalam pembiayaan JKN atau BPJS. Artinya penyakit ini bukan hanya membuat keluarga panik, tapi juga membuat negara harus mengeluarkan biaya yang sangat besar setiap tahun.
Penyakit jantung wajib diketahui semua orang, terutama anak-anak SMA, karena setelah masuk usia dewasa, mereka akan memulai memilih gaya hidup sendiri misalnya mau merokok atau tidak, mau olahraga atau tidak, mau makan sembarangan atau mulai sadar, mau cek kesehatan atau menunggu sampai tumbang. Banyak pasien usia 40-an tiba-tiba mengalami serangan jantung, padahal usia masih muda, masih kerja, masih punya banyak rencana, dan sebelumnya merasa sehat-sehat saja.
Lalu suatu hari nyeri dada, sesak, keringat dingin, dan dibawa ke IGD, keluarga merasa bingung termasuk pasiennya juga bingung karena sebelumnya tidak ada keluhan, tapi ketika ditelusuri ternyata faktor resikonya tidak hanya satu, ada kolesterol, darah tinggi, gula tinggi, perut buncit, tidur berantakan, jarang olahraga, gigi rusak, stres, dan tidak pernah medical check up, jadi ini bukan terjadi secara tiba-tiba.
Lalu apa penyebab dari penyakit jantung koroner ini? Berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP akun Yutube @DrErtaSpJP.
Profil kolesterol yang bermasalah
Bukan hanya LDL yang tinggi, tapi termasuk juga trigliserida yang tinggi, HDL rendah, non HDL kolesterol tinggi, lipoprotein A tinggi, atau kolesterol tinggi karena keturunan. LDL seringki disebut kolesterol jahat karena bisa masuk ke dinding pembuluh darah dan menjadi bahan baku plak. Trigliserida yang tinggi juga sering berkaitan dengan gula berlebih, nasi atau tepung berlebihan, minuman manis, obesitas, dan diabetes.
Sementara HDL yang rendah bisa membuat sistem pembersihan kolesterol jadi kurang optimal. Jadi kalau misalnya hasil lab-nya menunjukkan LDL tinggi, trigliserida tinggi, HDL rendah, maka itu bukan sekedar angka merah di kertas, kondisi tersebut bisa jadi tanda bahwa pembuluh darah sedang mulai menabung masalah.
Tekanan darah tinggi atau hipertensi
Hipertensi itu berbahaya karena seringkiali tidak terasa, banyak orang berkata, "Saya tidak pusing, berarti tensi saya aman," padahal tekanan darah tinggi itu tidak wajib memberikan gejala. Pembuluh darah bisa rusak diam-diam jika setiap hari pembuluh darah kita mengalami tekanan darah tinggi, lapisan dalamnya bisa terluka secara mikroskopik. Begitu lapisan ini rusak, kolesterol lebih mudah menempel, peradangan lebih mudah terjadi, dan plak lebih mudah terbentuk. Hipertensi itu ibarat seperti pompa air yang jika tekanannya terlalu besar, awalnya pipanya terlihat baik-baik saja, tapi lama-lama bocor, retak, dan rusak.
Gula darah tinggi dan gangguan metabolik.
Nah, ini termasuk diabetes, pradiabetes, resistensi insulin, HBA1C tinggi, sindrom metabolik, fattiliver metabolik, dan riwayat diabetes pada saat hamil. Gula darah tinggi bisa membuat pembuluh darah lebih mudah rusak, mempercepat peradangan, dan membuat plak lebih cepat terbentuk. Pada pasien diabetes, serangan jantung itu kadang gejalanya tidak khas, tidak selalu nyeri dada hebat seperti di adegan film. Kadang hanya berupa nafas pendek, sesak, lemas, mual, keringat dingin, atau badan yang terasa tidak tenak. Masalahnya banyak orang baru takut diabetes kalau sudah sering kencing atau berat badan turun. Padahal pembuluh darah bisa jadi sudah mulai rusak jauh sebelum gejala besar muncul.
Obesitas dan perut yang buncit
Nah, ini termasuk obesitas umum, obesitas sentral, lingkar perut berlebih, lemak viseral yang tinggi, dan berat badan yang naik terus dari tahun ke tahun. Perut buncit bukan hanya masalah penampilan atau ukuran celana. Lemak viseral di dalam perut itu aktif secara metabolic yang bisa memicu peradangan, memperburuk resistensi insulin, menaikkan trigliserida, menurunkan HDL, dan membuat tekanan darah makin sulit terkontrol. Jadi, perut buncit bukan sekedar cadangan kebahagiaan, kadang itu gudang logistik untuk penyakit metabolik.
Rokok dan paparan nikotin.
Nah, ini termasuk perokok aktif, perokok pasif, vape, sisa, dan paparan asap rokok di rumah atau di tempat kerja. Rokok merusak lapisan pembuluh darah, menurunkan kemampuan darah membawa oksigen, membuat darah lebih mudah menggumpal dan mempercepat pembentukan plak. Nikotin juga bisa meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.
Pola makan yang merusak pembuluh darah
Ini mencakup terlalu banyak lemak jenuh, emak trans, gula sederhana, minuman manis, garam, makanan ultra proses, gorengan, daging olehhan, porsi berlebihan, dan kurang serat. Banyak orang tidak merasa sedang merusak jantung ketika minum teh manis tiap hari, makan gorengan berkali-kali atau menjadikan mie instan sebagai sahabat setia. Masalahnya bukan satu kali makan, melainkan pada pola yang berulang selama bertahun-tahun dari hari ke hari. Tubuh tidak langsung protes setelah satu piring makanan berlemak, tapi kalau setiap hari pembuluh darah diberi beban, maka lama-lama plak itu akan terbentuk seperti cicilan tanpa tenor.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....