Waspada Penyakit Obesitas

  • 28 Jun 2026 16:30 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID,Natuna – Obesitas adalah kondisi tingginya kadar lemak yang menumpuk di dalam tubuh akibat asupan kalori yang masuk lebih banyak daripada yang digunakan. Melansir dari Alodokter, Jika tidak segera ditangani, obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung, hipertensi, hingga diabetes.

Lalu bagaimana memperlakukan obesitas dengan adil?. Berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP akun Youtube @DrErtaSpJP :

Obesitas bukan sekedar kurang niat, melainkan suatu penyakit kronis yang kompleks, ada faktor hormon, genetik, pola makan, tidur, stres, obat-obatan tertentu, aktivitas fisik, lingkungan, bahkan kebiasaan keluarga. Menurut WHO, obesitas adalah akumulasi lemak tubuh berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Untuk obesitas kita pakai Indeks Massa Tubuh (IMT) 25 ke atas, tetapi yang harus diingat bahwa pada populasi Asia resiko metabolik itu bisa muncul pada IMT yang lebih rendah, sehingga dokter juga harus menilai lingkar perutnya, tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan penyakit penyertanya.

Jadi jika seseorang punya obesitas, yang perlu kita tanyakan bukan hanya kenapa makan terus, tapi perlu juga ditanyakan apakah ada hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, sleap apnea, nyeri lutut, sesak, dan bahkan riwayat jantung. Hal itu karena obesitas seperti pusat komando kecil yang bisa mengirim masalah ke banyak organ, dia tidak selalu berisik tapi diam-diam rajin bekerja nah di sinilah GLP 1 reseptor agonis seperti semaglutide menjadi menarik.

Obat ini bekerja pada sistem biologis yang berhubungan dengan rasa kenyang, nafsu makan, pengosongan lambung, dan metabolisme gula. Jadi, pendekatannya bukan sekedar menahan lapar namun menggunakan tekad baja. Tekad manusia sering kalah oleh aroma gorengan sore hari, palagi kalau gorengannya masih panas.

Penelitian step 1 yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine tahun 2021 meneliti semaglutide 2,4 mg seminggu pada orang dewasa dengan overweight atau obesitas tanpa diabetes disertai intervensi gaya hidup. Hasilnya penurunan berat badan rata-rata jauh lebih besar pada kelompok semaglutide dibandingkan placebo. Nah, ini menunjukkan bahwa pada pasien yang tepat obat itu bisa membantu secara bermakna bila dikombinasikan dengan pola hidup.

Tapi perhatikan kata pentingnya dikombinasikan, obat ini bukan pengganti pola makan dan aktivitas fisik, dalam dokumen BPOM untuk Wegovi, penggunaannya disebut sebagai tambahan diet rendah kalori dan peningkatan aktivitas fisik. Jadi kalau seseorang memakai obat ini tapi tetap saja makan berlebihan setiap hari, tidurnya kacau, tidak bergerak, dan merasa sudah aman karena suntik, maka hasilnya bisa tidak optimal.

Bayangkan saja obesitas itu seperti mobil yang membawa beban terlalu berat, mesinnya itu jantung, jalannya pembuluh darah, sopirnya kebiasaan harian. Semaglutide bisa membantu mengurangi beban dan membantu mengatur sistem lapar kenyang, tapi kalau mobilnya tetap diisi beban baru setiap hari, maka jalanannya tetap rusak dan software-nya juga tetap kerja keras, maka masalahnya tidak akan selesai.

Yang sering orang lupa menurunkan berat badan pada obesitas bukan hanya soal terlihat lebih langsing. Penurunan berat badan yang bermakna itu bisa membantu mengendalikan tekanan darah, gula darah, trigliserida, sleap apnea, nyeri sendi, dan memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan. Nah, untuk pasien jantung, berat badan berlebih juga bisa memperberat beban kerja jantung. Jantung itu sabar, tapi kalau tiap hari harus memompa untuk tubuh yang bebannya maka makin lama makin berat, dan lama-lama bisa mengalami kerusakan dan menimbulkan masalah. Namun tidak semua orang yang ingin kurus boleh memakai obat ini.

Orang dengan berat badan yang normal tetapi ingin lebih kecil sedikit untuk acara tertentu bukan sasaran terapi anti obesitas. Ini bukan obat untuk mengejar standar kamera depan, melainkan terapi medis untuk kondisi medis, perlu evaluasi dokter karena memang ada efek sampingnya walaupun tidak berat.

Ada kondisi yang perlu diwaspadai dan ada target yang harus jelas, pasien juga perlu tahu bahwa terapi obesitas itu jangka panjang, kalau obat dihentikan tanpa strategi gaya hidup dan pemantauan, berat badan bisa naik lagi. Nah, ini bukan kegagalan moral melainkan memang sifat penyakit kronis itu sendiri.

Sama halnya dengan hipertensi, tekanan darah membaik karena obat dan pola hidup, jika obatnya dihentikan sembarangan maka tekanan darah bisa naik lagi karena tubuh tidak selalu mengikuti semangat motivasi kita. Jadi perlu diingat bahwa obesitas itu bukan sekedar ejekan, bukan sekedar kurang niat, dan bukan hanya masalah estetika. Obesitas adalah penyakit yang perlu strategi penanganan yang tepat, kadang cukup dengan perbaikan pola hidup, kadang perlu bantuan dokter, ahli gizi, obat atau pendekatan lain.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....