Delapan Alasan Umur Perempuan Lebih panjang dari Laki-laki
- 15 Jun 2026 10:36 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID,Natuna– Pernahkah Anda memperhatikan bahwa banyak keluarga biasanya nenek itu masih aktif mengatur rumah, mengingatkan obat semua orang, hafal jadwal cucu, bahkan masih bisa komentar kalau kita salah pakai baju. Sementara kakek kadang sudah lebih dulu pensiun dari kehidupan dunia. Nah, ini tentu tidak selalu terjadi pada setiap keluarga, tapi secara umum di banyak negara perempuan memang memiliki harapan hidup yang lebih panjang daripada laki-laki.
Berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP akun Yutube @DrErtaSpJP. Ada beberapa alasan mengapa umur perempuan lebih panjang dari laki-laki :
Perempuan cenderung lebih cepat mencari pertolongan medis. Banyak perempuan kalau merasa ada keluhan lebih mudah untuk berkata, "Kayaknya saya harus periksa ke dokter deh" Sementara sebagian laki-laki punya prinsip hidup yang luar biasa, “selama masih bisa berdiri berarti belum sakit”. Padahal tubuh manusia itu bukan motor bebek tahun '90-an yang bisa tetap jalan walau bunyinya sudah aneh, keluhan seperti nyeri dada, sesak, mudah lelah, bengkak kaki, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol tinggi, semua itu bukan tantangan untuk dibuktikan kuat-kuatan. Itu adalah sinyal tubuh yang perlu diperiksa.
Laki-laki secara umum lebih sering memiliki perilaku yang berisiko. Misalnya, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, mengemudinya lebih agresif, kurang tidur, atau menunda pemeriksaan kesehatan. Tentu tidak semua laki-laki begitu dan banyak juga perempuan yang punya risiko kesehatan. Tapi secara populasi perilaku berisiko tersebut memang lebih sering ditemukan pada laki-laki. Nah, ini adalah salah satu faktor yang ikut menjelaskan kenapa di banyak negara perempuan itu hidup lebih lama. Data global juga menunjukkan kalau perempuan cenderung memiliki harapan lebih tinggi daripada laki-laki di hampir semua negara. meskipun besar selisihnya itu berbeda-beda.
Penyakit jantung sering datang lebih awal pada laki-laki. Sering kita melihat laki-laki usia produktif dengan keluhan hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas sentral, merokok, kurang tidur, stres kerja, tapi merasa masih aman karena tidak ada gejala. Masalahnya pembuluh darah itu tidak selalu menunjukkan gejala awal. Kadang gejala pertama justru nyeri dada yang berat, serangan jantung atau stroke.
Hormon perempuan sebelum menopause bisa memberi perlindungan tertentu terhadap pembuluh darah. Estrogen memiliki peranan dalam kesehatan pembuluh darah dan metabolisme lemak. Meskipun perlindungan ini tidak membuat perempuan lebih kebal dari penyakit jantung. Setelah menopause, resiko penyakit jantung pada perempuan meningkat. Jadi pesan pentingnya perempuan memang bisa punya keuntungan biologis pada usia tertentu, tapi bukan berarti bebas makan sembarangan, jarang bergerak, kurang tidur, dan tidak pernah cek kesehatan.
Laki-laki sering menganggap keluhan itu sebagai gangguan kecil. Mudah lelah dianggap kurang kopi, dada kurangk nyaman dianggap masuk angin, sesak saat naik tangga dianggap umurnya udah tidak mudah lagi, dan mendengkur keras dianggap tidurnya nyenyak. Padahal pada sebagian orang itu bisa berkaitan dengan sleep apnea yang berhubungan dengan hipertensi dan risiko jantung. Kalau tubuh sudah sering memberikode, maka jangan pernah menunda untuk cek kesehatan.
Perempuan sering lebih terhubung dengan sistem kesehatan karena fase hidup tertentu. Banyak perempuan terbiasa bertemu tenaga kesehatan saat pemeriksaan kehamilan, persalinan, KB, pemeriksaan anak, atau screening. Nah, dari situ tekanan darah, berat badan, gula darah, atau keluhan lain akan lebih mungkin terdeteksi. Sementara laki-laki seringkiali baru bertemu dokter saat diminta kantor untuk menjalani medical checkup
Laki-laki cenderung lebih sulit bicara soal stres, kecemasan, atau masalah emosional. Banyak yang dibesarkan dengan kalimat laki-laki itu harus kuat. Padahal kuat itu bukan berarti diam sampai meledak. Stres kronis bisa mempengaruhi tidur, tekanan darah, pola makan, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, dan kesehatan jantung. Menjaga kesehatan mental bukan tanda lemah, justru itu adalah bagian dari strategi bertahan hidup.
Perempuan sering lebih disiplin dalam rutinitas kesehatan keluarga. Banyak ibu atau nenek yang mengingatkan obat, jadwal kontrol, makanan, dan pemeriksaan anggota keluarga. Ironisnya, mereka kadang lebih teliti mengurus kesehatan orang lain daripada dirinya sendiri. Tapi kebiasaan peduli kesehatan ini tetap menjadi faktor penting, orang yang lebih sadar terhadap sinyal tubuhnya, lebih rutin kontrol, dan lebih mau mengubah gaya hidup, biasanya punya peluang lebih baik untuk mencegah komplikasi suatu penyakit.
Bukan jaminan hidup panjang, tapi setidaknya peluangnya akan lebih baik. Namun ini bukan berarti semua perempuan itu pasti lebih sehat dan semua laki-laki pasti lebih berisiko. Banyak laki-laki yang hidup sangat sehat, rajin olahraga, tidak merokok, tidurnya cukup, dan rutin cek kesehatan. Banyak juga perempuan yang punya hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, penyakit autoimun, atau risiko jantung setelah menopuse. Jadi jangan gunakan data populasi untuk merasa aman secara pribadi. Kesehatan itu bukan lomba gender, tapi lomba melawan kebiasaan buruk pada masing-masing orang..
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....