Pengabdian UNP Dorong Kesejahteraan Petani dengan Mesin Polisher Padi

  • 19 Sep 2026 03:40 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Keterbatasan petani dalam pengolahan hasil panen padi masih menjadi kendala yang dihadapi sejumlah petani di Sumatera Barat (Sumbar), di antaranya petani di Nagari Garagahan, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam. Menyikapi kondisi tersebut, Tim Pengabdian Universitas Negeri Padang (UNP) memberikan pendampingan melalui Program Pengabdian UNP Berdampak dengan Penerapan Teknologi Tepat Guna Mesin Polisher Padi untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani di Nagari Garagahan, Kabupaten Agam.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 15 September 2026 ini dipimpin oleh Dr. Budi Syahri, S.Pd., M.Pd.T. sebagai Ketua Tim Pengabdian. Pelaksanaan program didukung oleh anggota tim yang terdiri atas Prof. Hendri, M.T., Ph.D.; Dr. Ir. Mulianti, M.T.; dan Afriza Media, S.Pd., M.Pd. Tim memiliki peran yang saling melengkapi, mulai dari pengembangan teknologi permesinan, efisiensi energi, konstruksi dan mekanisme mesin, hingga pelaksanaan sosialisasi, pelatihan, monitoring, dan evaluasi kegiatan.

Dalam kegiatan ini, teknologi yang diterapkan berupa mesin polisher padi atau mesin pemoles beras yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil pengolahan pascapanen sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani. Sebab selama ini, kata Budi Syahri, petani di Nagari Gargahan masih menghadapi keterbatasan dalam pengolahan hasil pertanian setelah panen.

“Sebagian petani masih menjual hasil dalam bentuk gabah kepada pedagang pengumpul sehingga nilai tambah yang diperoleh relatif terbatas. Keterbatasan sarana pengolahan pascapanen, khususnya mesin polisher padi, menyebabkan petani belum dapat mengoptimalkan kualitas beras yang dihasilkan maupun meningkatkan nilai jual produknya,” ujarnya.

Tim Pengabdian UNP menyerahkan satu unit mesin polisher padi atau mesin pemoles beras kepada Kelompok Tani Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Jorong IV Nagari Garagahan, Kabupaten Agam (Foto: Tim Pengabdian UNP)

Melalui program tersebut, tim UNP menyerahkan satu unit mesin polisher padi atau mesin pemoles beras kepada Kelompok Tani Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Jorong IV Nagari Garagahan. Mesin yang diterapkan merupakan tipe horizontal dengan sistem pemoles berbasis silinder dan sikat pemoles. Mesin menggunakan motor penggerak listrik 9 HP. Mesin ini memiliki kapasitas sekitar 100 kilogram beras per jam, dilengkapi pengatur aliran bahan, saluran keluaran beras, dan saluran dedak.

Budi Syahri menjelaskan, mesin polisher memiliki fungsi penting dalam tahapan pengolahan beras. Teknologi tersebut digunakan untuk mengurangi sisa lapisan dedak pada permukaan beras sehingga produk menjadi lebih bersih, putih, dan memiliki penampilan yang lebih baik. “Dengan peningkatan mutu tersebut, petani diharapkan memiliki peluang untuk menghasilkan produk dengan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan hanya menjual hasil panen dalam bentuk gabah,” katanya.

Menurut Budi, kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada penyerahan teknologi. Program juga diarahkan pada peningkatan kemampuan masyarakat dalam menggunakan, merawat, dan mengelola mesin secara mandiri. Oleh karena itu, penerapan teknologi dibarengi dengan sosialisasi, pelatihan pengoperasian, pelatihan perawatan, serta pendampingan pengelolaan usaha berbasis kelompok.

Tim Pengabdian UNP saat memberikan pendampingan dalam penggunaan mesin polisher padi atau mesin pemoles beras kepada Kelompok Tani Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Jorong IV Nagari Garagahan, Kabupaten Agam (Foto: Tim Pengabdian UNP)

Kelompok tani juga didorong membangun sistem pengelolaan alat yang tertib. Mesin direncanakan sebagai aset produktif bersama sehingga penggunaannya perlu diatur melalui jadwal, penunjukan operator, pencatatan produksi dan biaya operasional, serta perawatan rutin. Pola tersebut diharapkan menjaga keberlanjutan penggunaan alat sekaligus membuka peluang terbentuknya unit usaha pengolahan hasil pertanian berbasis kelompok.

Selain peningkatan kapasitas teknis, program memberikan perhatian terhadap penguatan manajemen usaha. Petani didampingi dalam pencatatan produksi, biaya operasional, pengelolaan pendapatan, serta pengembangan pemasaran produk beras. Dengan demikian, teknologi tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi ekonomi petani melalui peningkatan kualitas produk dan pengelolaan usaha yang lebih baik.

Program juga melibatkan tiga mahasiswa, yaitu Serly Indriani, Hendry Simamora, dan Kholiq Mayfino. Mahasiswa terlibat dalam survei lapangan, pengumpulan data, proses perancangan dan perakitan alat, dokumentasi kegiatan, pelatihan, pendampingan masyarakat, serta monitoring penggunaan teknologi. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman nyata sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Kelompok Tani P3A Jorong IV Nagari Garagahan, Farmali Yandri mengatakan, kehadiran mesin polisher padi diharapkan menjadi awal bagi berkembangnya sistem pengolahan hasil pertanian yang lebih mandiri di Nagari Garagahan. “Dengan alat ini, petani tidak hanya menjadi produsen gabah, tetapi secara bertahap memiliki kemampuan untuk menghasilkan beras dengan kualitas yang lebih baik dan bernilai ekonomi lebih tinggi,” ucapnya.

Sementara, Wali Nagari Garagahan, Darmalion, S.Sos., M.M menyebut, kolaborasi antara perguruan tinggi, kelompok tani, mahasiswa, dan pemerintah nagari menjadi bagian penting dalam memastikan teknologi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ia berharap, kegiatan pengabdian UNP terus berlanjut pada masa mendatang.

“Kami sebagai bagian masyarakat mengharapkan munculnya program-program lain yang mampu membantu menyelesaikan berbagai persoalan petani. Di antaranya dalam aspek produksi, teknologi pertanian, pengolahan pascapanen, manajemen usaha maupun pemasaran hasil pertanian,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....