Sulaman Kapalo Samek, Dari Warisan Budaya menuju Pasar Global

  • 13 Sep 2026 06:27 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman mendorong Sulaman Kapalo Samek di Korong Pasia Baru, Nagari Pilubang, Kecamatan Sungai Limau, berkembang dari kerajinan tradisional menjadi produk unggulan daerah yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing lebih luas. Upaya tersebut dilakukan melalui Diseminasi dan Pelatihan Pengembangan Desain dan Inovasi Produk UMKM Sulaman Kapalo Samek Berbasis Kearifan Lokal, yang berlangsung selama empat hari di Gedung Dekranasda Kabupaten Padang Pariaman, Karan Aur, Kota Pariaman.

Kegiatan yang berlangsung hingga Sabtu 13 September 2026 tersebut diikuti 20 pengrajin Sulaman Kapalo Samek dari Korong Pasia Baru. Pelatihan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pengrajin dalam mengembangkan desain, inovasi produk, pengolahan wastra, hingga strategi pemasaran.

Ketua TP PKK Kabupaten Padang Pariaman, Ny. Nita Christanti Azis mengatakan, pengembangan Sulaman Kapalo Samek harus tetap berpijak pada identitas budaya daerah, namun mampu mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan pasar. “Sulaman Kapalo Samek bukan sekadar kerajinan, tetapi warisan budaya yang harus terus kita hidupkan dan kembangkan bersama. Kita ingin para pengrajin tidak hanya mampu mempertahankan teknik tradisional, tetapi juga berani berinovasi sehingga produknya memiliki nilai jual dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Nita.

Menurutnya, kearifan lokal tidak harus membuat produk berhenti pada bentuk tradisional. Melalui kreativitas dan inovasi, warisan budaya dapat dikembangkan menjadi produk modern tanpa menghilangkan karakter dan identitas daerah.

Untuk itu, pelatihan menghadirkan sejumlah desainer, akademisi, dan profesional tingkat nasional. Para pengrajin mendapat kesempatan mempelajari pengembangan desain, tekstil, wastra, kriya, hingga pengembangan produk berbasis budaya.

Sejumlah narasumber yang hadir di antaranya Sjamsidar Isa atau Ibu Tjammy, tokoh di bidang mode, tekstil, dan industri kreatif. Hadir pula desainer Didi Budiardjo, akademisi bidang desain produk dan interior Dr. Suyin Pramono, profesional tenun dan kriya Muhammad Rianto Utama atau Tommy Utama, serta desainer tekstil RR Koesoemaningsih.

Nita mengatakan, keterlibatan para profesional tersebut diharapkan membuka perspektif baru bagi pengrajin Pasia Baru. Pengrajin tidak hanya belajar bagaimana menghasilkan sulaman, tetapi juga memahami bagaimana sebuah produk dirancang, memiliki identitas, dikemas, serta disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Ia menargetkan Sulaman Kapalo Samek tidak hanya dikenal di Padang Pariaman dan Sumatera Barat. Produk tersebut diharapkan dapat berkembang hingga pasar nasional, termasuk Jakarta, bahkan memiliki peluang menembus pasar internasional.

“Kita ingin produk dari Pasia Baru ini dikenal bukan hanya di Padang Pariaman. Kita ingin Sulaman Kapalo Samek bisa masuk Jakarta, dikenal secara nasional, dan kalau desain serta kualitasnya terus kita tingkatkan, tidak tertutup kemungkinan menembus pasar dunia,” ujarnya.

Sulaman Kapalo Samek sendiri merupakan salah satu kerajinan tekstil tradisional yang berkembang di Sumatera Barat dan diwariskan secara turun-temurun. Ciri khasnya terdapat pada teknik tusukan benang yang menghasilkan tonjolan kecil berbentuk lonjong menyerupai kepala peniti.

Karakter teknik tersebut menjadi salah satu pembeda Sulaman Kapalo Samek dengan jenis sulaman lainnya. Motif yang digunakan juga banyak terinspirasi dari flora, alam, serta filosofi budaya Minangkabau.

Di samping pengembangan desain dan kualitas, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman juga mendorong perlindungan Sulaman Kapalo Samek melalui rezim Kekayaan Intelektual, khususnya Indikasi Geografis. Nita berharap perlindungan kekayaan intelektual nantinya tidak hanya memberikan kepastian hukum terhadap produk, tetapi juga memperkuat identitas dan reputasi Sulaman Kapalo Samek. Dengan demikian, kualitas, keaslian, dan nilai tambah ekonomi bagi pengrajin dapat terus ditingkatkan.

Menurutnya, pengembangan Sulaman Kapalo Samek harus mampu mempertemukan dua hal, yakni pelestarian tradisi dan inovasi. Tradisi tetap menjadi identitas utama, sementara inovasi diperlukan agar produk mampu menjawab perubahan selera konsumen dan membuka pasar yang lebih luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....