Payakumbuh Siagakan 350 Personel dan Ratusan Peralatan Hadapi Bencana

  • 07 Sep 2026 12:43 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Pemerintah Kota Payakumbuh menyiagakan 350 personel gabungan dan ratusan peralatan operasional untuk menghadapi potensi bencana serta menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Kesiapan tersebut menjadi langkah antisipasi menghadapi berbagai ancaman, terutama bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta mengatakan kesiapan menghadapi bencana harus dibangun sejak awal karena bencana tidak dapat diprediksi waktunya. Hal itu disampaikannya saat memimpin Apel Gabungan Siaga Bencana dan Harkamtibmas Kota Payakumbuh 2026 di halaman Balai Kota Payakumbuh, Senin, 7 September 2026.

Sebanyak 19 satuan setingkat satuan tugas atau sekitar 350 personel disiapkan untuk mendukung penanganan kondisi darurat. Kekuatan tersebut melibatkan unsur TNI, Polri, organisasi perangkat daerah, instansi terkait, organisasi sosial, serta relawan.

“Apel ini menjadi bentuk kesiapan bersama sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat dan menjaga kondisi wilayah tetap aman,” kata Zulmaeta.

Kesiapan personel didukung berbagai sarana operasional, di antaranya tujuh kendaraan operasional TNI/Polri, lima mobil pemadam kebakaran, sembilan ambulans, tiga kendaraan dapur umum dan tangki air, dua kendaraan crane dan dozer, serta 15 mobil pikap. Selain itu, disiagakan dua mobil rescue, 22 dump truck, 60 sepeda motor, dua ekskavator, tiga skylift, lima perahu karet, 26 chainsaw, dua light tower portable, empat tenda pengungsi, serta 10 mobil toilet dan perlengkapan logistik lainnya.

Zulmaeta meminta seluruh personel dan peralatan tersebut dipastikan dalam kondisi siap digunakan kapan saja. Ia juga meminta pemetaan wilayah yang memiliki potensi kerawanan bencana terus diperbarui sebagai dasar mempercepat respons ketika terjadi keadaan darurat.

Kesiapsiagaan terutama diarahkan untuk menghadapi banjir, cuaca ekstrem, dan angin puting beliung yang termasuk bencana hidrometeorologi. Selain itu, ancaman gempa bumi juga menjadi perhatian melalui penguatan mitigasi dan simulasi bencana yang dilaksanakan setelah apel.

“Kita harus membangun kesiapan sejak awal karena bencana dapat terjadi sewaktu-waktu. Kemampuan masyarakat untuk menghadapi dan memulihkan diri setelah bencana juga perlu terus diperkuat,” ujarnya.

Menurut Zulmaeta, pengalaman bencana yang terjadi di Sumatera Barat pada penghujung tahun lalu harus menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kapasitas pemerintah dan masyarakat. Kesiapan tersebut tidak hanya menyangkut personel dan peralatan, tetapi juga kemampuan melakukan koordinasi serta pemulihan setelah bencana.

Selain kebencanaan, apel juga menjadi momentum untuk memperkuat Harkamtibmas dengan mengantisipasi balap liar, pelanggaran lalu lintas, kenakalan remaja, hingga peredaran narkoba. Zulmaeta menegaskan keamanan wilayah membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat, bukan hanya pemerintah dan aparat.

“Penguatan Harkamtibmas membutuhkan kolaborasi semua pihak. Tidak hanya pemerintah dan aparat, tetapi juga keluarga, sekolah, masyarakat, dunia usaha dan media,” katanya.

Ia meminta komunikasi dan koordinasi antarunsur terus diperkuat mulai dari tingkat kota hingga kecamatan dan kelurahan. Dengan koordinasi yang baik, mobilisasi personel dan sarana dapat dilakukan secara cepat dan terintegrasi ketika menghadapi kondisi darurat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....