Pemkot Padang Percepat Revitalisasi Batang Arau dan Kawasan Kota Tua

  • 08 Agt 2026 08:36 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang Pemerintah Kota (Pemkot) Padang mempercepat revitalisasi Sungai Batang Arau dan penataan kawasan Kota Tua sebagai bagian dari upaya membangun destinasi pariwisata berkelanjutan sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan. Komitmen tersebut diperkuat melalui International Symposium Ekosistem Kota Tua Padang yang mempertemukan pemerintah, akademisi, lembaga internasional, dan mitra luar negeri.

Simposium bertema "Warisan, Sungai, Pasar, dan Lingkungan untuk Pariwisata Berkelanjutan" digelar di Convention Hall Universitas Bung Hatta, Kamis 6 Agustus 2026, sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Padang ke-357. Kegiatan dibuka Wali Kota Padang Fadly Amran dan dihadiri Wali Kota Hildesheim, Jerman, Ingo Meyer, Perwakilan Residen United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia Sara Ferrer Olivella, Rektor Universitas Bung Hatta Prof. Diana Kartika, serta delegasi dari Malaysia, Thailand, dan sejumlah pemerintah daerah di Indonesia.

Dalam sambutannya, Fadly Amran menegaskan persoalan sampah dan pencemaran Sungai Batang Arau merupakan isu strategis yang harus ditangani secara terpadu. Menurutnya, keberhasilan revitalisasi sungai akan menjadi titik awal kebangkitan kawasan Kota Tua Padang sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

"Keberhasilan revitalisasi Sungai Batang Arau akan menjadi titik awal kebangkitan kawasan Kota Tua Padang sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Karena itu, penanganan sampah harus dimulai dari sumbernya, bukan hanya di hilir," ujarnya.

Fadly menjelaskan, transformasi pengelolaan sampah di Kota Padang kini tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui pemilahan sampah sejak dari sumber. Untuk mendukung hal tersebut, Pemkot Padang mengembangkan berbagai program, seperti Padang Rancak Award, penguatan Lembaga Pengelola Sampah (LPS) dan bank sampah, serta pemanfaatan teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) dan waste-to-energy.

Berdasarkan data Pemkot Padang, timbulan sampah di kota itu mencapai sekitar 669 ton per hari. Sebanyak 73 persen diangkut ke TPA, 26 persen dikelola melalui program Reduce, Reuse, Recycle (3R), sedangkan sekitar satu persen masih berakhir di pembuangan terbuka.

Komitmen Pemkot Padang mendapat dukungan dari Kota Hildesheim, Jerman, yang telah menjalin hubungan sister city dengan Padang sejak 1988. Wali Kota Hildesheim, Ingo Meyer, menyatakan kerja sama kedua kota akan terus diperkuat, khususnya di bidang pembangunan kota, pelestarian lingkungan, dan pengembangan kawasan bersejarah.

"Kami berkomitmen mempererat kerja sama melalui langkah-langkah strategis baru. Kami juga menantikan kunjungan balasan delegasi Kota Padang ke Hildesheim pada tahun 2027 sebagai bagian dari penguatan hubungan kedua kota," katanya.

Dukungan juga datang dari UNDP Indonesia. Perwakilan Residen UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella, menilai Padang memiliki potensi besar menjadi contoh kota yang menerapkan ekonomi sirkular dan solusi berbasis alam (nature-based solutions) dalam pengelolaan lingkungan.

Menurutnya, revitalisasi Sungai Batang Arau tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan, tetapi juga berkontribusi mengurangi dampak perubahan iklim, memperkuat ekosistem, serta menghadirkan ruang publik yang lebih berkualitas. UNDP juga siap mendukung penguatan sistem pelacakan sampah dari darat ke laut, pembangunan infrastruktur daur ulang, perlindungan sosial bagi pekerja sektor persampahan, hingga kolaborasi dengan berbagai kementerian dan lembaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....