Sumbar Masih Kekurangan 1,6 Juta Ton Jagung Pakan per Tahun
- 03 Agt 2026 03:39 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang – Ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan ternak masih menjadi tantangan besar bagi pengembangan peternakan di Sumatera Barat. Dari kebutuhan sekitar 2,4 juta ton jagung pakan per tahun, produksi daerah baru mampu mencapai sekitar 950 ribu ton, sehingga masih terjadi kekurangan sekitar 1,6 juta ton.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat, Sukarli mengatakan kekurangan pasokan bahan baku pakan berdampak langsung terhadap biaya produksi peternak. Kondisi itu terjadi di tengah populasi ayam petelur Sumatera Barat yang telah mencapai sekitar 18 juta ekor.
"Populasi ayam petelur kita sekitar 18 juta ekor, kebutuhan pakannya sekitar 2,4 juta ton, sementara produksi jagung Sumatera Barat baru sekitar 950 ribu ton per tahun. Artinya kita masih kekurangan sekitar 1,6 juta ton," ujarnya dalam dialog Padang Menyapa di RRI Pro 1 Padang, Sabtu 1 Agustus 2026.
Menurut Sukarli, keterbatasan bahan baku pakan menjadi salah satu penyebab tingginya biaya produksi peternakan. Di sisi lain, harga jual telur dan ayam potong di tingkat peternak belum mampu memberikan keuntungan yang memadai.
Ia menilai kondisi tersebut perlu diatasi melalui peningkatan produksi jagung lokal agar ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi. Selain itu, pemanfaatan limbah pertanian seperti jerami padi, batang jagung, dedak, hingga silase juga perlu diperkuat untuk menekan biaya produksi.
“Peternak perlu memanfaatkan jerami padi, batang jagung, dedak, serta mengolah silase dan menyediakan pakan cadangan untuk menghadapi musim kemarau. Kampus juga kami ajak menghadirkan hasil penelitian langsung ke masyarakat agar mereka teredukasi,” ujarnya.
Sementara itu, Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Dr. Nurhayati, menegaskan pakan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan usaha peternakan. Selain bibit unggul, kualitas pakan dan tata kelola pemeliharaan menjadi penentu tercapainya produktivitas ternak.
"Bibit yang bagus tanpa dukungan pakan yang baik tidak akan mampu mencapai potensi genetiknya secara optimal. Keberhasilan peternakan ditentukan oleh tiga aspek, yaitu genetik, pakan, dan tata kelola," ujar Nurhayati.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha perlu diperkuat untuk mendukung peternakan rakyat. Menurutnya, teknologi pengolahan pakan dan hasil riset harus lebih banyak diterapkan di lapangan agar mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi peternak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....