Dokter Ungkap Mayoritas Pasien Kanker Kepala-Leher Berobat Terlambat
- 24 Jul 2026 00:00 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - RSUP Dr. M. Djamil Padang mengungkapkan mayoritas pasien kanker kepala dan leher yang datang berobat masih berada pada stadium lanjut. Kondisi tersebut membuat penanganan menjadi lebih kompleks dan peluang kesembuhan lebih kecil dibandingkan jika penyakit terdeteksi sejak stadium awal.
Hal tersebut diungakap Donny Hendriyanto, Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher RSUP Dr. M. Djamil Padang. Donny mengatakan keterlambatan pasien berobat umumnya disebabkan gejala awal kanker kepala dan leher sering dianggap sebagai penyakit ringan.
"Kalau seandainya ditemukan benjolan di leher itu, kebanyakan pasien sudah datang pada stadium lanjut. Gejala awal kanker kepala dan leher sering kali hanya berupa hidung tersumbat di satu sisi, mimisan berulang, telinga berdenging, atau penurunan pendengaran sehingga sering dianggap seperti flu biasa," ujar Donny dalam dialog Ruang Kesehatan dengan tema Hari Kanker Kepala Leher Sedunia pada Selasa, 21 Juli 2026.
Ia menjelaskan, pada kasus kanker nasofaring, munculnya benjolan di leher umumnya menandakan sel kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening. Karena itu, masyarakat tidak disarankan menunggu hingga muncul benjolan sebelum memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Menurut Donny, masyarakat perlu waspada apabila keluhan di area kepala dan leher tidak kunjung membaik selama dua hingga tiga minggu. Pemeriksaan ke dokter Telinga Hidung Tenggorok (THT) diperlukan agar penyakit dapat dideteksi lebih dini.
"Kalau ada keluhan di kepala dan leher lebih dari dua sampai tiga minggu tidak ada perbaikan, sebaiknya segera berobat. Deteksi dini akan memberikan hasil pengobatan yang jauh lebih baik dibandingkan pasien yang datang pada stadium lanjut," ujarnya.
Ia mengatakan, pasien kanker kepala dan leher yang terdiagnosis pada stadium awal memiliki peluang sembuh lebih besar. Pada kanker nasofaring stadium awal, penanganan umumnya dilakukan melalui radioterapi sebanyak 33 hingga 35 kali, kemudian dievaluasi menggunakan pemindaian tomografi untuk melihat respons pengobatan.
Sebaliknya, pasien yang datang pada stadium III atau IV memerlukan terapi yang lebih panjang karena harus menjalani kombinasi radioterapi dan kemoterapi. Penanganan stadium lanjut juga membutuhkan evaluasi berkala untuk memastikan tidak terjadi kekambuhan.
Donny menambahkan, masyarakat juga perlu menghindari berbagai faktor risiko kanker kepala dan leher, seperti merokok, konsumsi alkohol, paparan zat kimia tertentu, serta konsumsi makanan yang diawetkan secara berlebihan. Ia menegaskan, semakin cepat kanker ditemukan, semakin besar peluang pasien untuk sembuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....