Waspada Megathrust, Edukasi Kebencanaan Terus Diperkuat
- 15 Jul 2026 16:51 WIB
- Padang
Poin Utama
- Zona megathrust Mentawai menyimpan potensi ancaman gempa besar yang terakhir terjadi pada tahun 1797, dengan energi yang masih terus dipantau oleh BMKG.
- Pendekatan mitigasi bencana fokus pada membangun kesiapsiagaan masyarakat melalui edukasi berkelanjutan, bukan menumbuhkan kepanikan atau rasa takut.
- Desa Tuapejat di Kepulauan Mentawai telah mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai Tsunami Ready Community, menunjukkan keberhasilan implementasi sistem kesiapsiagaan tsunami yang baik.
- Kolaborasi antara BMKG, BPBD, pemerintah daerah, dunia pendidikan, dan komunitas seperti Kogami terus diperkuat untuk menjaga keberlanjutan program kesiapsiagaan bencana.
RRI.CO.ID, Padang- Ancaman gempa bumi yang bersumber dari zona megathrust Mentawai perlu terus diwaspadai. Meski belum dapat diprediksi kapan gempa besar akan terjadi, masyarakat diminta tidak panik, melainkan meningkatkan kesiapsiagaan melalui pemahaman terhadap potensi risiko dan langkah mitigasi yang tepat.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I BMKG Padang Panjang, Suaidi Ahadi, mengatakan, aktivitas seismik di segmen Megathrust Mentawai masih menyimpan potensi ancaman. Ia menjelaskan, segmen tersebut terakhir mengalami gempa besar pada tahun 1797 sehingga energi yang tersimpan masih terus dipantau oleh BMKG. Karena itu, edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting dalam mengurangi risiko bencana.
"Potensi ancamannya memang masih ada. Yang perlu kita bangun bukan rasa takut, tetapi kesiapsiagaan masyarakat. Dengan memahami potensi ancaman, masyarakat akan mengetahui risikonya dan mampu melakukan mitigasi dengan baik, baik secara kultural maupun struktural," ujar Suaidi, Selasa 14 Juli 2026.
Menurut Suaidi, BMKG terus berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah, komunitas kebencanaan, termasuk Kogami Sumatera Barat, dalam membangun masyarakat siaga tsunami. Salah satu capaian yang membanggakan adalah Desa Tuapejat di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang telah memperoleh pengakuan Tsunami Ready Community dari UNESCO sebagai desa yang memiliki sistem kesiapsiagaan tsunami yang baik.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Kogami Sumatera Barat, Tommy Susanto, mengatakan upaya membangun budaya siaga bencana telah dilakukan sejak bencana gempa dan tsunami tahun 2005. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat memang tidak mudah, namun melalui edukasi yang berkelanjutan hasilnya mulai terlihat.
"Dengan perjuangan dan kolaborasi berbagai pihak, tingkat kepanikan masyarakat saat terjadi gempa sudah mulai berkurang. Ini menunjukkan pengetahuan masyarakat tentang ancaman, jalur evakuasi, dan apa yang harus dilakukan saat bencana mulai meningkat," kata Tommy.
Meski demikian, Tommy menegaskan tantangan ke depan masih cukup besar. Program-program kesiapsiagaan yang telah dibangun harus terus dijaga keberlanjutannya agar budaya sadar bencana tidak berhenti hanya pada satu generasi. Ia berharap sinergi antara pemerintah, BMKG, BPBD, dunia pendidikan, komunitas, dan masyarakat terus diperkuat sehingga kesiapsiagaan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Melalui edukasi yang konsisten, latihan evakuasi, serta penyebaran informasi kebencanaan yang akurat, BMKG dan Kogami berharap masyarakat Sumatera Barat, khususnya di wilayah pesisir yang berpotensi terdampak gempa dan tsunami, semakin siap menghadapi kemungkinan bencana. Pesan utama yang terus digaungkan adalah membangun kesiapsiagaan, bukan menumbuhkan ketakutan, sehingga korban jiwa dan kerugian akibat bencana dapat diminimalkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....