BNN Sumbar: Generasi Muda Harus Tangguh Hadapi Ancaman Narkoba
- 11 Jul 2026 09:56 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Penyalahgunaan narkoba masih menjadi ancaman serius bagi masa depan generasi muda di Indonesia, termasuk di Sumatera Barat. Karena itu, upaya pencegahan melalui edukasi dan penyuluhan terus digencarkan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumatera Barat.
Penyuluh Narkoba Ahli Pertama BNN Provinsi Sumatera Barat, Rikawati Hutahaean, menegaskan, pembahasan mengenai bahaya narkoba bagi generasi muda masih sangat relevan. Hal itu dibuktikan dengan meningkatnya angka prevalensi penyalahgunaan narkoba berdasarkan hasil survei nasional yang dilakukan BNN bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Rikawati menjelaskan, hasil survei tahun 2025 menunjukkan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat menjadi 2,11 persen dari sebelumnya 1,73 persen pada 2023. Jika dikonversikan ke jumlah penduduk, angka tersebut naik dari sekitar 3,3 juta orang menjadi 4,15 juta orang di Indonesia.
"Kalau dikatakan masih relevan, sangat relevan karena justru terjadi peningkatan angka penyalahgunaan narkoba. Dari 1,73 persen menjadi 2,11 persen atau sekitar 4,15 juta penduduk. Itu sudah termasuk tinggi, sehingga edukasi pencegahan kepada generasi muda harus terus dilakukan," ujar Rikawati, Sabtu 11 Juli 2026.
Menurutnya, tantangan pencegahan narkoba kini semakin kompleks. Modus peredaran tidak lagi dilakukan secara terang-terangan, melainkan disamarkan dalam berbagai bentuk seperti makanan, minuman, hingga cairan rokok elektronik (vape). Kondisi tersebut membuat masyarakat, terutama generasi muda, harus semakin waspada terhadap berbagai bentuk penyalahgunaan narkotika.
Berdasarkan hasil survei tersebut, kelompok usia produktif 15 hingga 64 tahun menjadi sasaran penelitian. Dari tiga kelompok usia yang disurvei, yakni 15–24 tahun, 25–49 tahun, dan 50–64 tahun, kelompok usia 15–24 tahun serta 25–49 tahun sama-sama memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap penyalahgunaan narkoba. Pada kelompok usia remaja, kerentanan dipengaruhi oleh belum matangnya pengendalian emosi, sedangkan pada usia dewasa dipicu berbagai tekanan hidup, seperti pekerjaan, lingkungan pergaulan, hingga persoalan rumah tangga.
Rikawati menambahkan, para pengedar kini menggunakan berbagai rayuan untuk menarik korban, terutama anak-anak dan remaja. Mereka menawarkan produk yang diklaim dapat membuat tubuh lebih langsing, lebih cantik, lebih percaya diri, bahkan lebih pintar dan berani, tanpa menyebut bahwa produk tersebut mengandung narkotika.
"Mereka tidak akan mengatakan ini narkoba. Mereka merayu dengan iming-iming, seperti membuat tubuh lebih langsing, lebih cantik, lebih berani, atau lebih pintar. Ditambah lagi adanya tekanan teman sebaya, sehingga banyak generasi muda yang akhirnya terjerumus," kata Rikawati.
BNN Provinsi Sumatera Barat mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, hingga lingkungan sekitar, untuk memperkuat pengawasan dan edukasi sejak dini. Melalui kolaborasi semua pihak, diharapkan dapat tercipta generasi muda yang tangguh, berkarakter, serta bersih dari penyalahgunaan narkoba di tengah semakin beragamnya modus peredaran narkotika.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....