Kuliner Istimewa =saat Idul Adha, Lamang Tungkek di Sawahlunto
- 30 Mei 2026 18:37 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang – Ditengah bermacam ragam kuliner khas ranah minang dan ditengah serbuan kuliner moderen ,ada satu hidangan istimewa yang sulit ditemui di hari biasa, namanya ‘ Lamang Tungkek’. Sawahlunto masih mempertahankan Kuliner tradisional yang sangat khas dan hanya bisa dijumpai disini, kuliner ini ada hanya saat perayaan Idul Adha sebagai makanan khas yang terhidang dinikmati untuk tamu yang datang kerumah. Kuliner ini berbeda dengan Lamang pada umumnya karena dibuat secara khusus , keistimewaan ini yang membuat warisan budaya kuliner dinanti oleh masyarakat setempat, perantau dan wisatawan.
Apa Itu Lamang Tungkek......?
Secara umum Lamang itu adalah makanan/kuliner khas yang terbuat dari beras ketan, dipadu campuran santan kelapa ditambah bumbu lain seperti garam dan lainya kemudian dimasak didalam bambu muda dan dibakar diatas api kayu. Namun lamang tungkek disawahlunto ini berbeda mempunyai ciri khas yang membedakan dengan lamang pada umumnya didaerah lain. Kata ‘Tungkek’ dalam bahasa setempat adalah Tongkat, bentuknya memanjang dan berikat, ada sebagian masyarakat menyebutnya juga dengan istilah ‘ Lamang Pocong’ karena bentuknya yang khas seperti pocong.
Tradisi membuat Lamang Tungkek biasanya dimulai 2 hari sebelum hari raya Idul Adha, warga membuat secara gotong royong dan akan disajikan kepada tamu, keluarga atau dijual sebagai pesanan khusus lebaran haji. Sekarang sangat sulit ditemui kalaupun ada harus memesan dahulu karena tradisi turun temurun ini tidak seperti dulu bisa dilakukan secara gotong royong, sekarang hanya orang tertentu saja yang membuatnya, karena kuliner ini hanya populer saat Idul Adha saja.
Salah satu pembuat Lamang Tungkek yang ada di nagari Kolok, Sawahlunto adalah Uni Tin , saat ditemui ia menuturkan bahwa ia mendapat pesanan banyak sekali, ia membuat lebih dari 15 kg dan ia buat sendiri karena juga sulit mencari tenaga lain untuk membuatnya dan hanya bisa dihitung dengan jari pembuat lamang tungkek ini sekarang. Dan sayangnya lagi keberadaan makanan khas ini mulai jarang ditemui dan perlahan bisa terancam punah.
Lamang Tungkek ini berbeda dengan Lamang pada umumnya yang terbuat dari beras ketan, Lamang Tungkek ini terbuat dari beras yang dihaluskan, dicampur dengan santan kelapa dan gula aren. Setelah diaduk merata dalam adonan kemudian dibungkus dengan daun pisang dan diikat secara renteng , bentuknya memanjang diikat kedua ujungnya dan ditengah, kemudian dikukus, setelah dirasa sudah matang baru siap untuk disajikan. Dahulu membuat kuliner ini dilakukan secara bersama sama bergotong royong sebagai penguatan simbol kebersamaan dan silahturahmi, serta menjadi identitas budaya masyarakat Sawahlunto yang diwariskan secara turun temurun . Rasanya sangat lezat manis legit karena manis gula aren.
Selain punya rasa yang manis dan gurih khas kuliner ini sarat akan nilai sosial, karena proses pembuatannya dulu dilakukan bergotong royong menciptakan suasana kebersamaan ditengah tengah masyarakat, simbol silahturahmi dan rasa syukur saat menyambut moment perayaan Haji/ Idul Adha. Akankah keberadaan kuliner ini bisa bertahan saat generasi muda semakin sedikit yang mengetahui cara pembuatannya, banyak masyarakt sekarang lebih memilih makanan praktis dan moderen dibanding melestarikan mempertahankan jajanan kuliner tradisonal yang membutuhkan proses panjang dalam pembuatannya, selain itu kuliner Lamang Tungkek ini hanya dibuat pada moment tertentu.
Jika tidak ada kesadaran untuk mempertahankan/melestarikan bukan tidak mungkin kuliner ini hanya tinggal cerita. Lamang Tungkek bukan hanya sekedar makanan tradisional tetapi ini adalah warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, kebersamaan, dan identitas dearah. Menjaga kuliner berarti menjaga salah satu kekayaan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....