Dampak Overthinking bagi Kesehatan Tubuh ketika Pikiran Tak Mau Berhenti
- 21 Sep 2026 19:30 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Pernahkah kita mengulang percakapan dalam pikiran, memikirkan kesalahan kecil, atau membayangkan kemungkinan buruk berulang kali? Kebiasaan tersebut sering disebut overthinking, yaitu pola berpikir berlebihan yang membuat pikiran sulit berhenti meskipun masalahnya belum tentu sebesar yang dibayangkan.
Pada dasarnya, berpikir sebelum mengambil keputusan merupakan hal yang wajar dan bahkan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ketika pikiran terus berputar tanpa menghasilkan solusi, proses tersebut dapat berubah menjadi beban mental yang menguras energi dan membuat seseorang sulit merasa tenang.
Masalahnya, pikiran dan tubuh tidak bekerja secara terpisah karena tekanan mental dapat memengaruhi berbagai respons fisik. Penelitian tentang rumination atau pikiran negatif yang berulang menunjukkan bahwa proses tersebut dapat mempertahankan respons fisiologis terhadap stres lebih lama setelah pemicu stres berlalu.
Salah satu dampak yang sering terasa adalah terganggunya kualitas tidur, terutama ketika pikiran justru menjadi semakin aktif menjelang waktu beristirahat. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis menemukan adanya hubungan antara kekhawatiran serta rumination dengan kualitas tidur yang lebih buruk, waktu tidur lebih pendek, dan waktu lebih lama untuk terlelap.
Kurang tidur kemudian dapat membuat tubuh terasa lelah, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, dan kurang bersemangat menjalani aktivitas. Dalam kondisi seperti ini, seseorang dapat kembali memikirkan berbagai persoalan karena tubuh dan pikiran belum memperoleh kesempatan cukup untuk memulihkan diri.
Overthinking juga dapat membuat tubuh terus berada dalam keadaan siaga seolah-olah sedang menghadapi ancaman yang belum benar-benar terjadi. Penelitian menunjukkan bahwa pikiran yang terus-menerus memikirkan stres berkaitan dengan perubahan respons fisiologis, termasuk aktivitas kortisol dan sistem tubuh yang berhubungan dengan tekanan psikologis.
Jika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, seseorang juga dapat menjadi lebih peka terhadap sensasi tubuh seperti sakit kepala, ketegangan otot, kelelahan, atau keluhan nyeri tertentu. Kajian mengenai rumination menemukan adanya hubungan dengan persepsi gejala fisik yang lebih kuat dan beberapa masalah kesehatan, meskipun hubungan tersebut tidak berarti setiap keluhan fisik pasti disebabkan oleh overthinking.
Karena itu, menghentikan overthinking bukan berarti memaksa diri untuk tidak pernah memikirkan masalah, melainkan belajar membedakan antara berpikir untuk mencari solusi dan berpikir tanpa akhir. Memberi jeda dari layar, melakukan aktivitas fisik ringan, menuliskan hal yang mengganggu pikiran, mengatur waktu tidur, serta berbicara dengan orang yang dipercaya dapat menjadi langkah sederhana untuk membantu pikiran kembali lebih tenang.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan bukan hanya tentang makanan bergizi dan olahraga, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan pikiran setiap hari. Ketika pikiran mulai berputar terlalu jauh, berhenti sejenak dan kembali pada hal yang dapat dikendalikan hari ini mungkin menjadi cara sederhana untuk menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....